KULONPROGO – Masih banyak “PR” yang harus segera dituntaskan manajemen PT Angkasa Pura (AP) I untuk operasional minimum Yogyakarta International Airport (YIA) pada 29 April mendatang.

Satu hal yang menjadi sorotan Indonesia National Air Carriers Association (INACA) sterilisasi runway dari material debu dan pasir. Upaya ini sangat vital agar tak membahayakan pesawat. “Pasir atau debu bisa mengakibatkan kerusakan pesawat jika sampai tersedot ke dalam ruang mesin,” ucap First Chairman Penerbangan Berjadwal Bidang Operasi dan Perawatan INACA Capt. Toto Soebandoro di sela pembahasan hazard identification risk assessment (HIRA) atau penilaian potensi ganguan dan resiko di Kantor PT Pembangunan Perumahan (PP), Kompleks YIA, Senin (22/4).

INACA merupakan asosiasi perusahaan penerbangan nasional Indonesia. Fungsinya sebagai wadah persatuan perusahaan-perusahaan angkutan udara dan kegiatan penerbangan nasional lainnya.

Gangguan pasir, lanjut Toto, lazim terjadi di bandara-bandara kawasan Timur Tengah. Karena itu runway harus rutin dibersihkan secara intensif.

Sejauh ini Toto melihat tak ada kendala lain yang signifikan. Kendati demikian, menurutnya, YIA masih butuh meningkatkan sisi pelayanan. Kolaborasi PT AP I dengan pemerintah daerah setempat atau swasta diperlukan untuk membangun fasilitas pendukung. Seperti rumah sakit dan hotel bertaraf internasional. “Kalau dari sisi keselamatan sudah terpenuhi,” katanya. Pernyataan Toto tersebut mempertimbangkan izin operasional bandara dari Kementerian Perhubungan. “Tentunya (Kementerian Perhubugan, Red) sudah melakukan verifikasi,” tambahnya.

Toto mengatakan, kelayakan operasional bandara tak hanya dari pemenuhan kebutuhan airline atau maskapai penerbangan. Tetapi juga oleh bandara itu sendiri. “Sebab, jika terjadi apa-apa bandara juga yang akan mendapatkan sorotan,” ingatnya.

Lebih lanjut Toto menjelaskan, kegiatan HIRA bertujuan mengecek semua kesiapan dan kelayakan YIA. Mulai dokumen-dokumen ihwal antisipasi kemanan bandara, infrastruktur, fasilitas, hingga sarana penunjang pengoperasian bandara.

Sambil menunggu sertifikat atau izin operasional YIA dari Kementrian Perhubungan, HIRA dilakukan untuk mencari hal-hal lain mungkin masih memerlukan perbaikan.

Dikatakan, ketika YIA sudah disetujui operasinya oleh pemerintah, maka perusahaan maskapai tidak punya alasan lagi untuk menolak pemanfaatan bandara itu. Meskipun izin operasional yang diterbitkan hanya dengan persyaratan operasinoal minimum. Kecuali bagi maskapai yang memang memiliki standar tinggi. Mereka bisa mengambil dua pilihan. Memutuskan untuk tidak masuk. Atau bernegosiasi dengan pihak bandara untuk menaikkan standar. Karena itu, selain INACA, HIRA melibatkan direksi maskapai penerbangan, seperti Garuda Indonesia, AirAisa, Silk Air, Sriwijaya Air, dan Lion Air.

Juru bicara proyek pembangunan YIA Agus Pandu Purnama menyatakan ada beberapa catatan minor berdasarkan kesimpulan HIRA. Dia optimistis semua catatan terkait handycap penerbangan bisa langsung ditangani. Hanya butuh waktu satu hingga dua hari sebelum operasional.

“Data HIRA menjadi masukan bagi kami sebelum operasional penerbangan dioperasikan. Ini sebuah syarat operasional bandara,” ujarnya.

Soal izin operasional YIA, menurut Pandu, telah terbit per 15 April lalu. Hanya wujud fisiknya masih dalam proses pembuatan.

Terkait uji coba operasi pada 26 April mendatang, Pandu optimistis tetap berjalan sesuai jadwal. Seluruh komponen akan diujikan. Termasuk customer. Hasil uji coba akan dicatat. Semua hal yang belum sempurna akan diperbaiki. Supaya pada launching YIA 29 April mendatang semuanya dalam kondisi siap. (tom/yog/fj)