MELAKUKAN dengan riang gembira. Sengaja mengajak dua anak lelaki saya ke tempat pemungutan suara di kampung. Hitung-hitung menuntun proses pembelajaran pendidikan politik sejak dini.

Anak saya yang kelas enam Sekolah Dasar nyletuk.

“ Ayah titip suara ya, “ kata anak sulung.

“ Lho..memang kakak pilih siapa ?” tanya saya.

Tentu saya tak bisa menjelaskan pilihan anak saya secara gamblang karena alasan azas pemilihan umum. Rahasia. Meski Azfa, anak sulung menyebut salah satu pasangan.

“Mengapa kakak pilih yang itu ? “ tanya saya untuk menguji referensi politik yang dia punya. Di luar dugaan saya. Azfa bisa memberi argumentasi yang rasional tentang pilihannya.

Gantian saya tanya pada Abhin, anak kedua saya yang baru Taman Kanak-Kanak level B1.

“Kalau Abhin pilih siapa ?” tanya saya. Tak kalah semangatnya. Abhin mantap menunjuk salah satu pasangan capres-cawapres.

“ Mengapa Abhin pilih itu ?” tanya saya lagi. Alasannya sangat sederhana. Wong namanya masih sekolah di taman kanak-kanak. Abhin menjawab karena pasangan capres dan cawapres acungan jarinya keren.

Sepulang dari nyoblos hati lega. Sudah menunaikan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Menyampaikan aspirasi politik melalui pemilihan umum serentak. Dan hingar bingar politik usai pula. Tak ada lagi yang saling menyerang. Tak ada lagi yang saling mengaku paling hebat. Kecebong sama kampret berdamai. Karena urusannya sudah selesai. Tinggal menunggu hasil. Menunggu Komisi Pemilihan Umum bekerja. Berdasarkan penghitungan suara, Komisi Pemilihan Umum akan mengumumkan pemenang pilihan capres cawapres, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan anggota Legislatif.

Realitasnya kelegaan belum hadir. Tensi politik pasca pemilihan umum serentak memanas. Kegaduhan politik  riuh, sebagai dampak lembaga survei mengumumkan hasil quick count. Belajar dari pendekatan behaviorisme bahwa kegaduhan politik ini karena adanya stimulus quick count dari lembaga survei yang memperoleh respon dari kubu capres dan cawapres.

Maka atas stimulasi dari hasil quick count yang memenangkan salah satu pasangan capres dan cawapres segera dibalas dengan  respon dari kubu sebelah. Responnya adalah deklarasi dari kubu sebelah dengan menyatakan pihaknya yang memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden. Keberanian deklarasi didasarkan pada hasil real count versi hitungan tim sukses.

Kegaduhan semakin meninggi saat terjadi ketidakpuasan terhadap penyelenggara pemilihan umum. Penyelenggara pemilihan umum dituduh telah berbuat curang. Kubu cawapres dan cawapresmembeberkan berbagai fakta di lapangan melalui media sosial Netizen menyuguhkan berbagai ragam bukti ketidakberesan penyeleggaraan pemilihan umum  yang digelar di media sosial.

Netizen yang percaya dengan quick count dan pro penyelenggara pemilihan umum tak kalah serunya memberikan argumentasi yang nampak logis. Berbagai konsep dan pembenaran pun disuguhkan dengan lezat.

Perang antar netizen pun tak berkesudahan. Masing-masing berpijak pada kebenarannya sendiri. Belum ada tanda-tanda titik temu. Genderang perang logika kebenaran terus dikumandangkan masing-masing kubu. Masing-masing kubu mencari celah kelemahan lawan. Kalau sudah ketemu digunakan sebagai psywar untuk melemahkan lawan.

Dalam dunia politik memang acapkali terjadi psywar. Tujuannya untuk menjatuhkan mental lawan. Kalau mental lawan jatuh kekalahan tinggal menunggu waktu. Maka bisa dipahami kalau masing-masing kubu merasa hebat sendiri. Karena sebenarnya permainan masih berlangsung.

Maka kalau sudah seperti ini, sebaiknya melihat drama politik jangan baperan. Kalau baperan bisa-bisa dengan kawan bermusuhan karena pilihan politik berbeda. Suami istri bisa ribut, gara-gara dukungan capres dan cawapres tidak sama. Dan sesama saudara bertengkar, karena idola capres dan cawapres tidak sejalan.

Sekali lagi dalam politik jangan baperan. Ingat. Politisi dan partai politik pengusung yang berseberangan, beberapa tahun kemudian, bisa saja rujuk untuk mencalonkan capres dan cawapres yang baru. Karena dalam politik tidak ada kawan abadi yang ada adalah kepentingan. Sedang anda masih bermusuhan dengan orang-orang di sekitar..!