KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo menangkap peluang keberadaan YIA sebagai aset penting untuk mendongkrak pembangunan daerah. Terlebih keberadaan bandara internasional itu diperkirakan bakal menyedot ribuan orang yang eksodus ke Kulonprogo. Setidaknya para pegawai bandara. Maka diperlukan fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan mereka. Salah satunya berupa sekolah dengan mutu dan standar yang memadai.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menyatakan, saat ini di wilayahnya sudah ada sekolah swatsa dan negeri yang representatif. Meski masih perlu peningkatan kualitas. Seiring kehadiran YIA.

“Semua harus meningkat, itu sudah konsekuensi, modernitas dan profesionalitas pendidikan di Kulonprogo,” ujarnya.

Perguruan tinggi pun ada. Salah satunya Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) yang berada di Wates. Dengan ribuan mahasiswa.

Hasto juga masih menunggu manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berencana mendirikan kampus di Kulonprogo seluas enam hektare. “Saya kira hal hal seperti ini sudah kami persiapkan sejak jauh hari untuk menyambut bandara internasional di Kulonprogo,” klaimnya.

Pun demikian kesiapan sarana transportasi pendukung YIA. Kepala Dinas Perhubungan Kulonprogo Bowo Kristianto mengaku sudah berkoordinasi dengan manajemen AP I. Untuk menghidupkan Stasiun Wojo. Pun menjalin kemitraan dengan DAMRI. “Pilihan ini akan diambil sambil menunggu kesiapan Stasiun Kedundang,” katanya.

Bowo juga berkoordinasi dengan Organda Kulonprogo untuk memberdayakan angkutan umum non-trayek. (tom/yog/fj)