JOGJA – Pariwisata menjadi salah satu sektor menjanjikan bagi masyarakat. Terbukti pariwisata ikut berperan nyata dalam meningkatkan kesejahteraan. Selain itu, pariwisata juga membuka peluang kerja sehingga ikut menekan angka pengangguran.

Contoh nyata itu bisa dirasakan mereka yang tinggal di desa-desa wisata di DIY. Perekonomian mereka meningkat sejak terlibat aktif dalam  mengelola dan memasarkan desa wisata.

“Pariwisata ikut menggerakan semua sektor kehidupan. Lihat saja yang ada di Gunungkidul, Bantul dan Sleman. Warga yang semula bekerja di luar, ramai-ramai balik ke desa,” ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo saat Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) Kepariwisataan bagi Siswa SMA/SMK di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul di Hotel Royal Darmo Malioboro, Yogyakarta,  Senin (22/4).

Sektor yang bergerak di desa wisata antara lain atraksi kesenian, homestay hingga kuliner. Adapun contoh desa wisata yang berkembang pesat seperti di  Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Kaki Langit Mangunan, Dlingo, Bantul dan  Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Turi, Sleman. Di samping juga ada Tebing Breksi, Prambanan, Sleman.

Singgih memberikan ilustrasi selama setahun pendapatan yang masuk ke Desa Wisata Pulesari mencapai Rp 3,4 miliar. Pendapatan yang lebih besar juga terjadi di Tebing Breksi dan Kaki Langit.

Tahun ini, Dinas Pariwisata DIY akan membangun sejumlah fasilitas dan prasarana di Desa Wisata Kaki Langit. Nilainya mencapai Rp 5,9 miliar. Dari hitungan Singgih, jika itu dianggap sebagai investasi, akan kembali tiga tahun ke depan. Hitungan itu didasarkan perputaran uang yang ada di Kaki Langit. Saat ini jumlah wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata itu cukup banyak.

“Kami senang karena yang mengembangkan desa wisata itu masyarakat bukan investor,” ujarnya bangga.

Rasa senang dengan berkembangnya desa wisata juga dirasakan para pedagang di Pasar Digital Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul. Mereka yang berdagang di pasar digital itu punya omset yang jauh lebih besar dibandingkan saat berjualan di pasar tradisional Desa Mulo.

“Perbandingannya jualan di pasar digital hanya beberapa jam dengan seminggu di Pasar Mulo. Pedagang di sana saya tanya mesam-mesem,” cerita birokrat yang punya leluhur di Gunungkidul ini.

Menyadari tingginya potensi pariwisata itu, Singgih mengajak para guru SMK agar ikut berkontribusi dalam menyiapkan SDM pariwisata. Mereka diharapkan ikut membangun SDM sektor pariwisata di DIY yang siap pakai.

“Peluangnya sangat besar apalagi akan ada bandara baru yang 29 April ini diresmikan,” ajak mantan kepala Balai Tekkomdik Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY ini. (*/kus/zl)