MAGELANG – Jika di KPU Kabupaten Magelang keliru memasukkan data C1 berdampak hasil bertambahnya suara bagi pasangan capres dan wapres nomor 01, di Kota Magelang kesalahan petugas KPPS memasukkan data pemilih berdampak coblosan ulang. Menurut Ketua KPU Kota Magelang Basmar Perianto Amron, tidak ada unsur ketidaksengajaan dalam kejadian itu.

“Kami menemukan tiga pemilih di TPS 01 Kelurahan Magelang bukan warga setempat. Mereka warga luar daerah, namun melakukan pencoblosan. Tetapi dimasukkan oleh petugas KPPS sebagai DPK (Daftar Pemilih Khusus). Ini keliru. Setelah kami klarifikasi dan kami telusuri, kami pastikan harus dilakukan pemungutan suara ulang di TPS 01 Kelurahan Magelang,” katanya kemarin.

Dijelaskan, pemungutan suara ulang di TPS 01 Kelurahan Magelang itu dilakukan setelah adanya temuan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Magelang. Yakni pemilih luar daerah yang melakukan pencoblosan di TPS itu pada 17 April. Dari hasil klarifikasi dan pengumpulan fakta-fakta di lapangan, memang ada tiga orang yang terdiri atas sepasang suami istri dan satu  anak melakukan pencoblosan dan tercantum sebagai DPK.  Namun faktanya, ketiga orang itu tidak memiliki e-KTP setempat, tetapi masih menggunakan e-KTP Jawa Barat.

“Petugas KPPS tidak cermat terhadap tiga orang itu yang menunjukkan e-KTP langsung dimasukkan ke DPK dan diperbolehkan mencoblos. Petugas KPPS setempat  tidak melihat e- KTP calon pemilih yang masih berdomisili di Jawa Barat,” tuturnya.

Menurutnya, di TPS 01 Kelurahan Magelang jumlah pemilih yang masuk dalam DPT sebanyak 280 orang dan satu orang sebagai pemilih  dalam daftar pemilih tambahan (DPTb).  Sedangkan  jumlah  pemilih yang menyalurkan hak pilihnya pada 17 April lalu 247 orang.

“Kemungkinan pemungutan suara ulang baru dilaksanakan 25-26 April sambil menunggu kiriman  surat suara dari KPU RI. Karena surat suara Pemilu 2019  di KPU Provinsi Jawa Tengah habis,” ungkap Basmar. (dem/laz/er)