SLEMAN – Hari ini (22/4), merupakan hari pertama ujian nasional berbasis komputer (UNBK) untuk jenjang sekolah menengah pertama. Mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia.

Ada enam sekolah yang harus menumpang di sekolah lain. Yaitu SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, MTs Raudatul Mutaqien, MTs Anwar Fatuhiyyah, MTs Darussalam, SMP Darul Ilmi, dan SMPTK Jogja Patriae.

Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana mengatakan ada tiga SMP bergabung dengan sekolah lain. Yaitu SMP Olifant, SMP Cahaya Bangsa Utama, dan MTs Irsyadul Anam. Namun pelaksanaan UNBK dilakukan di tiga sekolah tersebut.

Ketiga SMP tersebut telah memiliki fasilitas penyelenggaraan UNBK. Namun secara administrasi belum terakreditasi.

“Sedangkan MTs Darussalam, SMP Darul Ilmi, dan SMPTK Jogja Patriae, selain menumpang di sekolah lain, secara administrasi harus bergabung dengan sekolah lain. Karena belum terakreditasi,” kata Ery.

Jadi di Sleman, ada enam sekolah menumpang UNBK sekolah lain. Secara administrasi disebut bergabung. ‘’Tiga sekolah masuk kategori menumpang dan bergabung,” kata Ery.

Di Sleman terdapat 146 SMP swasta maupun negeri. Belum semuanya bisa menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Atau masih menumpang di sekolah lain. Karena sarana dan prasarananya belum memadai.

Selain itu, ada juga yang bergabung dengan sekolah lain karena belum terakreditasi. Sehingga ijazahnya dikeluarkan sekolah lain.

“Jadi definisi istilah, menumpang dan bergabung, itu berbeda,” kata Ery.

Sementara itu, Kepala Disdik Sleman Sri Wantini mengatakan secara keseluruhan untuk SMP negeri di Sleman pelaksanaannya semua sudah berbasis komputer. Pihaknya telah melakukan pengadaan komputer dengan dana APBD dan dana alokasi khusus (DAK).

“Sekolah yang tahun lalu melaksanakan tiga sesi, tahun ini inshaallah akan melaksanakan dua sesi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Wantini.

Pihaknya juga telah melakukan beberapa persiapan yang menyangkut hal teknis maupun siswa itu sendiri. Yaitu menggelar latihan UNBK dan mengadakan pelatihan untuk pengawas dan teknisi.

Dia meminta setiap sekolah menyediakan genset. Untuk mengantisipasi kerusakan jaringan listrik atau pemadan listrik PLN.

Terkait kemungkinan keterlambatan log in, semua bergantung pada server Pusat. Tahun lalu, kata Wantini, UNBK SMP juga mengalami keterlambatan hampir setengah jam.

“Namun itu kan semua dari server Pusat. Semoga tahun ini lancer. Sebab waktu simulasinya juga lancar,” ungkap Wantini.

Kepala SMPN 4 Depok, Lilik Mardiningsih mengatakan, pihaknya sudah siap melaksanakan UNBK hari pertama. Pihaknya menyiapkan 70 unit komputer dan dua server.

Selain itu, disediakan satu server sebagai cadangan. “UNBK di sini (SMPN 4 Depok) akan dilakukan dua sesi,” kata Lilik.

Jumlah siswa SMPN 4 Depok yang mengikuti UNBK sebanyak 128 siswa. Ditambah satu siswa dari SMPTK Jogja Patriae. “Jadi totalnya ada 129 siswa,” kata Lilik.

Dia menjelaskan, ada 14 siswa dari SMP Olifant yang ikut bergabung. Artinya secara administasi ikut SMPN 4 Depok namun pelaksanaan UNBK tetap di SMP Olifant.

“Jadi, nanti ijazahnya bergabung di SMPN 4 Depok,” jelas Lilik. (har/iwa/zl)