JOGJA – Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 meminta seluruh peserta Pemilu 2019 bersikap ksatria. Apapun hasilnya harus bisa menerima dengan lapang dada. Terlebih untuk menjaga keutuhan dan kedamaian NKRI pasca pengumuman hasil.

Gubernur DIJ ini memandang perbedaan adalah suatu hal yang wajar. Terpilih atau tidak, setiap warga negara tetap wajib berperan serta untuk kemajuan Indonesia. Tentunya dengan porsi dan kemampuannya masing-masing.

“Saya pikir ikhlas saja, harapan saya Indonesia lebih baik,” katanya ditemui usai menyalurkan hak pilih di TPS 15 Panembahan Kecamatan Kraton, Rabu pagi (17/4).

HB Ka 10 atau HB X dan keluarga mendatangi TPS 15 Panembahan pukul 07.23. Sempat menunggu cukup lama, HB X mengawali pencoblosan pukul 07.53. Untuk menyalurkan hak pilih, setidaknya HB X memerlukan waktu enam menit.

Ditanya kendala, sang raja mengaku tidak menemukan kendala. Hanya, dia menyoroti ukuran kertas suara. Panjang surat suara belum sesuai dengan luas bilik suara.

“Surat suara saya tadi rusak setelah saya coblos. Agak lama mungkin untuk ukuran kertas suara dengan luas bilik belum sesuai. Lebarnya cukup tapi panjangnya ” katanya.

HB X juga berkomentar tentang kemudahan warga mengenali calon wakil rakyatnya. Secara psikologis, warga lebih mengenal wajah daripada nama. Sementara dalam pencoblosan kali ini, pemilih harus memilih perwakilan dari banyaknya nama yang tersedia.

“Kalau saya cenderung lebih baik (ada) gambarnya. Tadi kan cuma presiden dan DPD yang ada fotonya. Harus mencari yang dikenal. Kalau tidak pilih nama ya dicoblos partainya,” ujarnya. (dwi/ila)