JOGJA – Kota Jogja sudah ditetapkan menjadi kota batik dunia pada 2017 lalu oleh World Craft Council. Salah satu alasannya karena setiap wilayah memiliki kekayaan dan ciri khas batik tersendiri. Termasuk Gunungketur Pakualaman yang mengkombinasikan motif Gunung Ketur dengan Purbonegoro.

Dwi Agus, Jogja

Mengunjungi sudut perkampungan Gunungketur Pakualaman akan menemui gang-gang sempit. Tidak hanya sekadar aktivitas warga pada umumnya, adapula berkesenian. Bukan dalam sebuah olah gerak namun kegiatan membatik.

Kegiatan ini dapat dengan mudah ditemukan di ndalem Brotodiningrat. Belasan ibu-ibu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang tengah mbironi, mencanting hingga menjemur kain batik. Para perempuan muda hingga paroh baya ini tergabung dalam kelompok pembantik Sidoluhur Pakualaman.

“Awal mula terbentuk dengan nama Sido Mukti pada 2014. Seiring waktu berjalan pengurus dan anggotanya banyak yang ganti. Akhirnya sepakat mendirikan dengan nama baru Sido Luhur Pakualaman pada awal 2018,” jelas salah seorang pengurus Rina Agustiati Umbara.

Meski tergolong baru namun anggota SIdo Luhur mencapai 30 orang. Seluruhnya adalah warga Gunung Ketur Pakualaman. Hampir setiap hari para ibu-ibu ini berkumpul di kediaman milik Rina.

Sebagai industri rumahan, memang tidak banyak kain batik yang dihasilkan. Dalam satu bulan, kelompok ini hanya memproduksi dua lembar kain. Namun bukan sembarang kain batik, karena teknik yang diusung gabungan antara cap dan tulis.

Rina mengakui proses membatik tidaklah mudah. Terlebih memang butuh kesabaran ekstra untuk melalui setiap tahapannya. Tidak hanya sekadar menciptakan motif tapi juga menghasilkan kombinasi warna yang indah.

“Prosesnya lumayan lama, mulai dari colet lalu pengecapan harus presisi. Belum lagi jika dikombonasikan dengan tulis. Harus membuat motif dulu sebelum akhirnya dicanting pakai malam atau lilin,” ujar perempuan 61 tahun itu.

Hasil akhir dari mbatik ini berwujud sogan. Mulai dari sogan coklat, hijau, merah dan beragam lainnya. Hanya saja untuk ciri khas, Sido Luhur memiliki motif batik tersendiri. Usai pencarian cukup lama munculah motif Gunung Ketur sebagai identitas diri.

Wujud dari motif inipun sangat indah. Motif semen untuk menandakan perwujudan gunung. Lalu adapula bunga-bungaan yang mengelilingi motif kokoh ini. Rina menjelaskan motif tersebut adalah perwujudan dari bunga Tanjung.

Bunga ini dengan mudah ditemui di sepanjang Sultan Agung menuju Pura Pakualaman. Kedua ciri khas ini dipertemukan dalam balutan malam menjadi sebuah motif batik. Bahkan secara khusus motif ini mendapatkan apresiasi dari penghageng Kadipaten Pakualaman.

“Menjadi ciri khas apalagi bunga Tanjung memang menghiasi kawasan Pakualaman. Untuk cetakan capnya juga dibuatkan oleh penghageng Pakualaman,” katanya.

Tak hanya cap Gunung Ketur, Pakualaman, mereka juga memberikan cap motif Purbonegoro. Motif ini merupakan motif kebanggan Kadipaten Pakualaman. Bahkan telah menjadi ciri khas dari batik yang dimiliki oleh Pakualaman.

“Kami diizinkan untuk mengkombinasikan motif Gunung Ketur dan Purbonegoro. Bisa juga berdiri sendiri-sendiri. Misal diberi tambahan motif batik tulis,” jelasnya.

Tidak hanya belajar secara mandiri. Sido Luhur juga mendapat tambahan ilmu dari balai batik Jogjakarta. Adapula ilmu membatik di ndalem Puro Pakualaman. Kombinasi ilmu ini digunakan untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya nusantara.

Impian ke depan kelompok ini adalah mendiring kampung batik. Perkampungan yang tidak begitu luas, menurut Rina sangatlah ideal. Pengunjung bisa mendatangi satu persatu rumah pengrajin. Tidak hanya sekadar melihat namun belajar langsung mencating batik.

“Sebenarya ada tiga kelompok di kampung ini. Ketiganya memiliki ciri khas yang berbeda-beda, baik motif maupun tekniknya. Tapi bisa jalan bersama untuk mengembangkan kampung batik,” ujarnya.

Disinggung mengenai penjualan, tentu belum massif. Hanya saja batik produksi Sido Luhur memiliki harga pasaran relatif stabil. Rata-rata untuk setiap kain batik produksi Gunung Ketur mencapai Rp 250 ribu.

“Kalau pemasaran memang masih terbatas. Karena belum semua anggota bisa produksi dengan optimal. Tapi setidaknya untuk menuju kampung batik sudah dilakukan secara bertahap,” katanya.(pra/mg1)