KULONPROGO – Indonesia kaya dengan tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan pangan. Salah satunya suweg. Bagi sebagian orang mungkin asing. Padahal suweg banyak manfaatnya.

ROTUN INAYAH, Kulonprogo

Suweg adalah tanaman anggota marga Amorphophallus dan masih berkerabat dekat dengan bunga bangkai. Di beberapa daerah, khususnya di Jawa, tanaman ini biasa dikonsumsi dengan cara direbus. Biasanya dimakan pagi hari untuk sarapan. Dimakan dengan tambahan parutan kelapa dan taburan garam.

Namun, kini suweg bisa dinikmati dalam bentuk lain. Diolah untuk kue dan makanan ringan yang lain. Di tangan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Ayem Lestari, Desa Demangan, Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo, suweg ini diolah menjadi tepung g yang bisa menggantikan tepung terigu. Dan tepung suweg ini bisa digunakan untuk membuat berbagai jenis kue. Egg roll, klaper tart, bahkan brownis.

Ketua Kelompok Wanita Tani Ayem Lestari Surati mengatakan, upaya untuk membuat tepung suweg ini disebabkan tanaman ini banyak tumbuh di daerahnya. Namun kebanyakan hanya diolah dengan dikukus saja. Sedangkan harga jualnya tidak seberapa.”Sehingga muncul ide untuk membuat tepung. Dalam bentuk tepung juga bisa disimpan cukup lama,’’ jelasnya.

Menurutnya, mengolah suweg memang tidak mudah. Karena jika salah mengolahnya, akan membuat gatal yang mengonsumsinya. Namun KWT ini mampu mengolah suweg hingga menemukan komposisi yang tepat. Sehingga bisa dikonsumsi semua kalangan. ”Agar tidak gatal saat dimakan, cara mengupas kulitnya harus dengan satu arah,” tambahnya.

Kini dengan berbagai jenis makanan atau kue, suweg bisa dipasarkan ke berbagai kalangan. Kue-kue produksi KWT Ayem Lestari sering diikutkan dalam pameran-pameran. Dan yang terkini, mereka juga memanfaatkan media sosial untuk pemasarannya.

Menurut Surati, usaha yang belum genap setahun ini sudah mendapatkan untung yang cukup memuaskan. Karena itu, anggota kelompok semakin giat mengembangkannya. Setiap ons tepung suweg dijual Rp 20.000. Sedangkan dalam bentuk makanan, dijual bervariasi.

Biasanya, tanaman suweg dipanen saat musim kemarau. Saat seperti ini, anggota kelompok mengolah tanaman suweg dalam jumlah banyak. Karena salah satu pengolahannya memanfaatkan panas matahari untuk menjemurnya. “Belum pernah kekurangan suweg. Karena mudah didapatkan dan mudah ditanam,’’ tambah Surati.

Proses pembuatannya pun sederhana saja. Suweg dikupas kemudian dicuci lalu dihilangkan lendirnya. Selanjutnya lalu diiris tipis-tipis. Kemudian dijemur. Baru setelah itu diblender.“Kami akan terus berinovasi untuk membuat jenis makanan lain dengan bahan tepung suweg ini,’’ tambahnya.

Sejumlah konsumen mengaku menyukai makanan yang terbuat dari tepung suweg ini. Sebab, secara umum rasanya hampir sama jika menggunakan bahan baku tepung terigu.(cr8/mg2)