JOGJA – Banyaknya pendatang dan mahasiswa di DIJ membuat wilayah ini menjadi pasar empuk bagi bandar narkoba dari dalam maupun luar negeri. Bahkan Februari lalu, Polresta Jogja berhasil mengungkap pengedar ganja paket hemat Arifin Setyo Nugroho, 22, yang berstatus mahasiswa.

Dari pengembangan, Polisi mendapati nama Yowan Aditya Witoelar, 21. Tersangka kedua ini beralamatkan Klari Karawang Jawa Barat. Muncul satu nama lagi Erwin Yustiadi, 42, warga Kosambi Karawang. Dia petani ganja yang bercocok tanam di Waduk Jatiluhur Purwakarta Jawa Barat. “Kami temukan lahan ganja dengan total 1.083 pohon ganja siap panen,” jelas Kapolresta Jogja Kombespol Armaini usai pemusnahan pohon ganja di Lapangan Panahan Baciro Selasa (5/3).

Temuan tersebut, lanjutnya, merupakan prestasi besar. Ini karena mampu memutus salah satu mata rantai peredaran ganja di Jogjakarta. Bahkan sang petani mengakui hasil panen sebagian besar dikirimkan ke Jogjakarta.
“Semuanya kami musnahkan hari ini (kemarin) dan sudah kami sisihkan untuk barang bukti di pengadilan. Untuk operasi tidak berhenti sampai disini, kami juga terus melacak jaringan lainnya. Tidak hanya ganja tapi jaringan narkotika lainnya,” tegasnya.

Direktur Direktorat Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) Polda DIJ Kombespol Dewa Putu Artha menambahkan dalam beberapa kasus, polisi kerap berburu hingga luar wilayah Jogjakarta. mengungkapkan tidak ada permasalahan jika aksi polisi nyebrang wilayah. Terlebih langkah ini adalah pengembangan dari kasus di Jogjakarta. “Dalam beberapa kasus sudah diterapkan demikian, baik untuk jajaran Polda hingga Polsek sekalipun. Jogjakarta memang pasar empuk, tapi bandar utamanya justru berasal dari luar wilayah,” jelasnya.

Perkataan perwira menengah tiga melati ini bukan pepesan kosong. Sebagai contoh ganja yang didapatkan dari Karawang Jawa Barat. Berdasarkan keterangan pelaku, ganja dijual dalam paket hemat dan diedarkan di Jogjakarta.Selain ganja, pengawasan ketat lainnya juga menyasar sabu-sabu dan tembakau gorilla. Sementara untuk obat daftar G didominasi trihexphenidyl.

Ketiga narkotika ini, lanjutnya, mendominasi peredaran di Jogjakarta. “Dari data nasional, Jogjakarta memang menurun. Awal 2014 menduduki peringkat delapan, kini sudah peringkat 30. Tapi bukan berarti peredaran berhenti,” ujarnya.

Kabid Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi DIJ AKBP Sudaryoko mengakui pemberantasan peredaran bukan perkara mudah. Pengedar dan penjual, lanjutnya, terus menerapkan mekanisme transaksi baru. Mulai dari taruh alamat, melalui kurir hingga jasa ekspedisi. Salah satu kasus terbesar yang ditangani BNNP DIJ adalah sabu dari Thailand.

Tidak main-main, dua pelaku perempuan membawa 1,1 kilogram dari Thailand. Selanjutnya narkotika impor ini akan dijual dalam paket kecil. Salah satu sasarannya adalah Jogjakarta. “Indonesia memang sudah dibidik oleh bandar dari negara lain. Mereka menganggap (Indonesia) merupakan pasar yang konsumtif. Jadi memang sangat tepat jika aksi langsung menyasar pangkal peredarannya,” katanya. (dwi/cr8/pra/mg4)