JOGJA – Pengalaman menginap di bangunan tahun 1700-an bisa dirasakan saat berada di Kampoeng Joglo Homestay. Tapi kenyamanannya tetap seperti layaknya penginapan berkelas lainnya.

Berada di Jalan Kaliurang Km. 10,8 dan berdiri di tanah seluas 2.650 meter persegi, terdapat enam joglo dengan masing-masing tiga kamar di dalamnya. “Hampir 90 persen bangunan ini bukan bangunan baru, tapi kami rombak sedikit. Joglonya asli dari tahun 1700-an yang saya dapatkan dari Jawa Timur, Purwodadi, dan lainnya,” ujar pemilik Kampoeng Joglo Homestay Deny Octa Nugraha dalam media gathering, Selasa malam (22/1).

Deny mengungkapkan, dari enam joglo yang ada baru dua yang dipasarkan dan sudah dipakai pada pertengahan Desember lalu. “Dua bangunan ini adalah Joglo Parang Garuda dan Joglo Pringgodani. Masing-masing tiga kamar,” ungkapnya.

Di homestay tersebut tersedia dua jenis kamar yaitu deluxe dan suit room. Di deluxe room tamu ditawarkan fasilitas AC, king bed, dan hot water yang dibanderol Rp 200 ribu per malam untuk satu kamar. Sedangkan untuk suit room ada tambahan kulkas dan makanan dan minuman tradisional. Seperti jamu-jamuan, tape, coklat, dan lainnya. Suit room ini ditawarkan dengan harga Rp 300-350 ribu per malam untuk satu kamar.

“Harga ini masih promo sampai akhir Januari, tidak termasuk breakfast tapi kami menjual per pax sarapan hanya Rp 25 ribu saja,” imbuhnya.
Tak hanya ditawarkan per kamar saja, homestay ini juga bisa disewa per joglo dengan tambahan ekstra bed. Joglo dilengkapi ruang tamu yang luas dan teras dengan furniture lawasan. “Di Joglo depan kami juga membuka galeri batik. Memberikan alternatif tamu dan wisatawan berbelanja oleh-oleh kerajinan khas Jogja,” jelasnya.

Soal promosi usaha propertinya ini, Deny bekerjasama dengan OYO, platform layanan perhotelan. Menurut dia OYO ini berbeda dengan platform yang lain, karena memperhatikan keinginan owner dan memberikan pendampingan yang total.

“Seperti Kampoeng Joglo Homestay ini mulai dari bangunan, furniture, dan lokasinya sudah unik ya. Jenis properti ini banyak dicari wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri,” tuturnya.

Selain lewat online, OYO juga melakukan pemasaran lewat offline, seperti mengajak teman-teman dari agen tour, langsung datang ke lokasi mengenalkan produk. “Di Jogja ini potensial sekali, banyak hunian unik yang terasa sekali nuansa jawanya. Selain Bali, Jogja jadi target wisatawan asing maupun lokal yang mencari penginapan seperti ini,” katanya. (obi/ita/pra/tif)