MAGELANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang mewaspadai Tuberkulosis (TB) akibat multy drug resistant (MDR). Yakni penyakit sebagai akibat pasien yang seharusnya minum obat antituberkulosis setidaknya selama enam bulan secara rutin, tetapi tidak tertib sehingga penyakit lebih parah. Hal itu dikatakan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Yis Romadon saat menggelar rapat perencanaan dan evaluasi pengendalian penyakit menular (P2M) di Aula Dinas Kesehatan setempat, kemarin.

“TB MDR ini lebih berbahaya. Penyebabnya karena penderita TB biasa tidak rutin meminum obat dan periksa, sehingga kuman akan kebal dan semakin menjalar,” kata Yis.

Tidak hanya itu, lanjutnya, cara penanganan TB MDR dinilai lebih merepotkan, karena membutuhkan dua tahun pengobatan secara rutin. Selain itu, jika pasien kembali tidak patuh dengan mekanisme pengobatan, mereka berpotensi terjangkit extensively drug resistant (TB XDR). Dengan tingkat bahaya kuman lebih tinggi, maka risiko kematian pun lebih besar dibandingkan TB biasa.

“Banyak pasien TB yang hanya rutin berobat pada bulan-bulan pertama. Setelahnya mereka enggan untuk berobat karena merasa penyakitnya sudah sembuh hanya dalam waktu singkat,” tuturnya.

Untuk itu, ia berharap dalam rapat perencanaan dan program yang diikuti petugas program dari masing-masing puskesmas se-Kota Magelang itu dapat meneruskan informasi ini kepada masyarakat tentang bahaya penyakit TB.
“Harapan saya jangan ada alasan lagi pengidap TB biasa tapi malas-malasan berobat rutin. Nanti efeknya lebih parah, karena terkadang pasien menganggap enteng, ketika berobat tiga minggu saja sudah normal lagi. Padahal belum sepenuhnya sembuh,” ujarnya.

Ditambahkan Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular (P3M) Dinkes Lilik Sunarto, pengobatan penyakit TB biasa biasanya dalam tiga pekan saja, pasien akan berasa sembuh total. Hal ini membuat pasien seakan-akan sudah sembuh, sehingga tidak memerlukan pengobatan lagi.

“Padahal kuman di dalam tubuh masih ada. Kalau tidak mengonsumsi obat, tentu kuman akan semakin kebal dan kuat. Kalau sudah begitu, biasanya pasien akan terjangkit TB MDR,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan Dinkes, dari 40 kasus TB terdapat dari tujuh pasien terjangkit TB MDR. Untuk membedakan antara TB biasa dengan TB MDR, pemeriksaannya dilakukan dengan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

“Sekarang sudah terdapat di dua rumah sakit di Kota Magelang yaitu RST dr Soedjono dan RSUD Tidar. Jika seseorang terindikasi kena TB, maka akan diperiksa menggunakan alat tersebut,” tandas Lilik. (dem/laz/fn)