SLEMAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman tiap tahun berupaya menambah Desa Tangguh Bencana (Destana). Sehingga pada 2021 semua desa di Sleman menjadi Destana. Saat ini, dari 86 desa, masih 41 desa belum menjadi Destana.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelono mengatakan, sejak 2012 yang sudah menjadi Destana baru 45 desa. Pihaknya berharap tiap desa menjadi Destana.

“Targetnya 2021 semua desa menjadi Destana. Tahun ini kami targetkan ada penambahan 12 Destana,” kata Joko (11/1).

Joko mengatakan, pada awal pembentukan Destana, wilayah yang diprioritaskan yaitu wilayah berpotensi bencana erupsi Merapi. Lalu setiap tahun ada penambahan Destana. Kini pihaknya mulai menggarap Destana di Sleman bagian barat.

Joko mengatakan Destana dibagi dalam potensi bencana yang berbeda-beda. Ada potensi bencana erupsi Merapi di Cangkringan, Pakem, Turi, dan Ngemplak.

Lalu Prambanan juga akan dibentuk Destana. Karena potensi longsor di Prambanan tinggi. “Lalu di wilayah Sleman bagian barat ada potensi bencana angin puting beliung,” kata Joko.

Materi mitigasi bencana dilakukan dengan cara berbeda. Tergantung potensi bencana yang ada. Joko berharap Destana bisa menumbuhkan kesadaran akan potensi bencana.

“Minimal, desa punya budaya sadar dan budaya pengurangan risiko bencana,” kata Joko.

Beberapa desa juga didorong agar bisa memanfaatkan keuangan desa untuk mitigasi bencana. Seperti pembelian peralatan mitigasi, atau digunakan untuk memperbaiki jalur evakuasi.

Selama 2018, baru ada penambahan delapan Destana di Sleman. Menurut Joko, delapan destana tersebut sesuai target pada 2017.

Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan, Heri Suprapto mengatakan, selain Destana, pihaknya melakukan mitigasi melalui Sekolah Siaga Bencana (SSB). Ada di beberapa sekolah di Desa Kepuharjo.

“Kami berikan pemahaman terkait potensi bencana. Serta upaya-upaya mitigasinya pada masyarakat luas,” kata Heri. (har/iwa/fn)