SLEMAN – Tingkat kehadiran anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman pada sidang masa ketiga 2018 menurun menjadi 70 persen. Padahal pada masa sidang kedua, kehadiran dewan 80 persen.

Anggota Forum Pengamat Independen (Forpi) Sleman, Hempri Suyatna mempertanyakan rendahnya tingkat kehadiran anggota dewan tersebut. “Itu menunjukkan komitmen anggota dewan rendah,” ujar Hempri Jumat (11/1).
Dia meminta agar anggota dewan memperhatikan jadwal siding. Agar banyak yang hadir. Namun, hal tersebut bukan alasan anggota dewan jika benar-benar ingin menjadi wakil rakyat.

Para anggota DPRD Sleman merupakan perwakilan rakyat. Sangat memalukan jika kehadiran anggota dewan dalam sidang rendah. Padahal itu menentukan kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat.

“Harusnya anggota dewan mementingkan rakyat,” kata Hempri.

Ketua Badan kehormatan DPRD Sleman, Prasetyo mengatakan, memang ada penurunan persentase kehadiran anggota dewan. Selama September 2018 hingga Desember 2018, kehadiran anggota dewan sebesar 70,44 persen.

Padahal, dalam masa sidang kedua, kehadiran anggota dewan 80 persen. Mendekati akhir tahun justru menurun. “Ini memprihatinkan,” kata Prasetyo.
Dia menilai, rendahnya kehadiran tersebut berimbas pada pengambilan keputusan. Padahal aturan mainnya, paling tidak tiga per empat dari seluruh anggota dewan harus hadir. “Angka 70 persen itu riskan. Bisa tidak kuorum,” ujar Prasetyo.

Menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2019 para anggota dewan sibuk menyiapkan diri. Namun dia meminta agar mereka tetap menjaga komitmen menjalankan tugas hingga habis masa jabatannya.

“Sesibuk apapun anggota dewan harus menjalankan tugasnya,” kata Prasetyo. (har/iwa/fn)