Ada puluhan benteng yang ditemukan di seputar Desa Bapangsari dan Desa Dadirejo di Kecamatan Bagelen. Lebih disebut benteng pendem, karena keberadaannya dianggap biasa saja oleh warga, karena memang belum dilakukan pengelolaan secara baik oleh masyarakat maupun pemerintah.

Temuan sebuah benteng di Dusun Sudimoro menguatkan keyakinan jika masih banyak benteng-benteng lain yang masih terpendam di dalam tanah. Orang menyebut keberadaan benteng itu dibangun oleh Jepang sebagai salah satu strategi dalam menghalau musuh yang hendak masuk ke Purworejo dari arah laut.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Purworejo Eko Riyanto menuturkan, seluruh bangunann benteng di dua desa itu termasuk benda cagar budaya (BCB). Benda-benda tersebut dilindungi secara penuh oleh undang-undang.

“Kepemilikannya memang tidak ada di pemerintah. Selama ini masyarakatlah yang memiliki lahan di mana ada benteng-bentengnya,” tutur Eko Riyanto Jumat (11/1).

Meski kepemilikannya berada di tangan warga, pemerintah mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat memiliki tanggung jawab untuk merawat dan melindungi keberadaannya. Dia mengaku tidak kaget jika ada benteng yang ditemukan di sebuah lahan yang dimiliki warga.  “Yang sudah terdata memang puluhan, tapi belum semuanya diketahui persis posisinya atau masih terpendam tanah,” tambah Eko.

Berada di dalam tanah, menurutnya, juga hal yang wajar. Jepang dikenal memiliki strategi perang yang berbeda. Dia akan membangun banyak benteng di dalam tanah. Banyak fungsi yang digunakan, mulai agar tidak kelihatan musuh, serta memudahkan menjinakkan lawan.

“Bisa saja mereka membangun benteng di dalam tanah. Dan hanya tampak depan saja yang terlihat dari luar. Seiring perjalanan waktu karena mungkin kurang terawat, jadi tampak depannya juga tidak kelihatan,” katanya.

Pernyataan ini meruntuhkan anggapan orang jika keberadaan benteng-benteng itu sempat menghilang karena adanya kejadian bencana luar biasa yang berakibat hilangnya benteng. “Benteng yang ada di Bagelen itu belum digunakan secara maksimal oleh Jepang. Yang sudah digunakan itu yang paling atas dan cukup besar untuk mengintai,” katanya.

Jatuhnya bom Hirosima dan Nagasaki menjadi pemicu tidak maksimalnya benteng pendem Bagelen dimanfaatkan oleh Jepang. Karena setelah bom mematikan itu, Jepang lumpuh dan memilih menarik pasukannya dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Eko Riyanto juga menampik jika benteng di Bagelen itu menjadi sebuah bangunan yang istimewa bagi Jepang. Dia menyebut benteng di Cilacap memiliki posisi dan bentuk lebih baik. Hanya untuk bangunan benteng di atas pegunungan, Bagelen memang menjadi salah satu kekhasan.

Sementara itu, pasca temuan benteng dengan ketinggian 2,5 di Bapangsari, TACB Purworejo memang turun ke lapangan, kemarin. Hanya saja, Eko masih akan melakukan beberapa pengkajian terlebih dahulu sebelum dipublikasikan ke masyarakat.

“Ini memang menjadi hal yang menarik. Terus terang sebenarnya berapa luas kawasan benteng dan jumlah bangunannya belum diketahui secara pasti,” tandasnya.

Pihaknya sendiri mengimbau para penambang atau masyarakat agar merawat bangunan yang ditemukan untuk penelitian. “Silakan ditambang, tapi kalau menemukan bangunan seperti benteng itu jangan dirusak, karena itu memiliki cerita sejarah,” harap Eko. (udi/laz/fn)