JOGJA – Stadion Mandala Krida punya wajah baru. Setelah direnovasi selama enam tahun. Sejak 2012. Menelan dana hingga Rp 174 miliar. Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X berharap, Mandala Krida tak lagi digunakan untuk kegiatan non olahraga. Terutama di area dalam stadion. Itu demi menjaga fasilitas dari kerusakan.

“Stadion ini harus dijauhkan dari tangan-tangan jahil yang menganggu dinamika sportivitas. Sudah saatnya Mandala Krida menjadi saksi tumbuh kembangnya olahraga di Jogjakarta,” tutur HB X usai meresmikan Stadion Mandala Krida hasil renovasi Kamis (10/1).

Pernyataan HB X bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, Mandala Krida telah menjadi salah satu ikon Jogjakarta. Karena itu stadion yang dibangun pada 1976 itu harus dikelola secara profesional. Gubernur juga mengimbau masyarakat turut merawat. Agar selain bisa meningkatkan prestasi olahraga, juga dapat dinikmati generasi ke depan.

Wajah baru Mandala Krida berupa penambahan fasilitas penunjang di luar stadion. Di antaranya, venue panjat tebing, voli pasir, lapangan bola basket outdoor, serta arena sepatu roda dan balap motor. Sedangkan di dalam stadion ditambah lintasan atletik bertaraf internasional.

Untuk tribun juga diperluas. Dari semula hanya bisa menampung 10 ribu penonton. Kini mampu menampung sedikitnya 25 ribu. Fasilitas lain berupa kursi tribun, food court, dan pengadaan lampu stadion rencananya dialokasikan pada 2020 mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengklaim, lintasan atletik Stadion Mandala Krida terbaik se-Indonesia. Saat ini. Sirkuit atletik ini juga telah mendapat pengakuan dunia. Tersertifikasi oleh International Association Athletic Federation (IAAF).

“Dengan sertifikat IAAF Mandala Krida dapat melaksanakan berbagai kejuaraan cabang olahraga bertaraf internasional. Serta jika ada pemecahan rekor dunia di situ akan diakui,” ujarnya.

Semua fasilitas stadion, lanjut Baskara, dapat dimanfaatkan masyarakat. Tanpa kecuali. “Ada tambahan fasilitas lain, seperti musala,” katanya.

Soal pengelolaan stadion, saat ini masih menjadi tanggung jawab Disdikpora DIJ. Baskara menegaskan, area dalam stadion hanya khusus untuk kegiatan olahraga. Sementara area di luar stadion boleh untuk kegiatan lain. Kebijakan itu sekaligus dalam rangka mempertahankan sertifikat IAAF. (cr5/yog/fn)