BANTUL – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul kewalahan membendung pelajar SMP (sekolah menengah pertama) mengendarai sepeda motor. Kepala Disdikpora Bantul Didik Warsito tak menutup mata bahwa jamak pelajar SMP yang mengendarai sepeda motor ke sekolah. Meski, area parkir sekolah selalu tampak kosong.

”Siswa memang tak membawa sepeda motor ke sekolah. Tapi, menitipkan di tempat warga dekat sekolah,” jelas Didik di kantornya Rabu (10/1).
Bekas kepala dinas tenaga kerja dan transmigrasi ini sudah berulang kali mengintruksikan agar sekolah serius menangani para pelajarnya. Yang membawa sepeda motor ke sekolah.

Sekolah juga telah membuat tata tertib. Namun, faktanya sebagian pelajar bisa mencari celah. Mereka menitipkan sepeda motor ke rumah warga.
”Sekolah juga harus memberikan edukasi mengenai tata tertib berlalu lintas,” imbaunya.

Dugaan Didik perihal banyaknya pelajar SMP mengendarai sepeda motor bukan isapan jempol. Kasatlantas Polres Bantul AKP AKP Cerryn Nova Madang Putri menyebutkan, jumlah pelanggaran lalu lintas pada 2018 sangat tinggi. Mencapai 24.334 kasus. Pun dengan teguran. Ada 39.212 pengendara yang ditegur. Yang memprihatinkan, tingginya pelanggaran maupun teguran ini didominasi pelajar.

”Pelajar yang mengendarai sepeda motor berusia di bawah 17 tahun hanya ditegur. Kalau di atas 17 tahun ditilang,” ungkapnya.

Nova, sapaannya, mengungkapkan, ada beberapa jenis pelanggaran yang melibatkan pelajaran. Mulai tidak memiliki SIM (surat izin mengemudi), tak berhelm, melawan arus, hingga menggunakan ponsel saat berkendara. (cr6/zam/fn)