KULONPROGO – Sebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) juga terjadi di dataran tinggi. Ditambah musim hujan, memicu penyebaran DBD makin masif.
“Kalau dulu hanya di daerah dataran,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati (10/1).

Penyebaran DBD di pegunungan bukan dipicu pendatang. Namun disebabkan nyamuk Aedes aegypti pembawa DBD yang beradaptasi hidup di dataran tinggi.
“Kami antisipasi dengan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2TVZ),” jelasnya.

Siklus enam tahunan DBD diwarnai lonjakan kasus. Pola dihitung sejak temuan kasus DBD pada 1998. Pada 2018 jumlah penderita DBD 109 orang. Pada 2017 sebanyak 79 orang.

Siklus enam tahunan terjadi pada 2016. Penderita melonjak hingga 381 orang. Dimungkinkan pada 2022 akan kembali terjadi lonjakan penderita DBD.
“Foging masih menjadi upaya pencegahan DBD. Juga pemantauan jentik nyamuk. Paling utama adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” kata Baning.

Kepala Dinkes Kulonprogo, Bambang Haryatno berharap, ada peran masyarakat. Harus intens memberantas sarang nyamuk. “Usia nyamuk sekitar 14 hari. Kalau pemerantasan dilakukan seminggu sekali pasti menghilangkan jentik nyamuk,” kata Bambang.

Tubuh yang sehat dan fit juga menjadi daya tangkal DBD. Termasuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat. “Gerakan Jumat Bersih perlu digalakkan terus,” kata Bambang. (tom/iwa/fn)