PURWOREJO-Pemerintah dinilai belum berperan maksimal dalam upaya pelestarian budaya. Banyak kegiatan yang dilakukan hanya bersifat formalitas dan kurang menyentuh hal substantif. “Dukungan melalui anggaran untuk melestarikan budaya juga seringkali tidak tepat sasaran,” kata Pimpinan Mitrakasih Lukas Eko Sukoco.

Dia menyampaikan kritikan itu dalam Sarasehan Budaya Jawa yang diselenggarakan Padepokan Mitra Kasih dan melibatkan penggiat seni dan budaya di Purworjejo serta bekerja sama dengan Yayasan Bahasa Jawa Kanthil dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kamis (10/1).

Menurutnya, a para penggiat seni dan budaya semakin lama semakin khawatir dengan generasi muda, khususnya di Jawa Tengah akan kehilangan identitas dirinya sebagai masyarakat Jawa. Ini sangat berpengaruh pada rendahnya pemahaman konsep dan tata nilai yang disebut orang Jawa sebagai unggah-ungguh. “Bisa kita lihat budaya sopan santun dan moral generasi anak bangsa ini sudah merosot,” imbuh Sukoco.

Karena itu dia menekankan agar pemerintah lebih memperhatikan pendidikan budaya kepada pelajar dan generasi muda. Pelestarian itu bisa melalui dukungan materi dan harus mempertimbangkan apsek ketepatan. “Jangan sampai dalam implementasinya untuk melestarikan kebudayaan malah salah sasaran,” katanya.

Pembicara dari Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil, Sutejo K Widodo Dwijodiningrat mengatakan, kekuatan budaya dapat menjadi daya tahan bagi ancaman nilai-nilai asing yang merugikan. Kebudayaan Jawa sudah selayaknya tetap dijaga karena bisa menjadi daya dan energi terhadap ancaman budaya asing.

Sutejo mengungkapkan sesuai dengan rumusan dan rekomendasi kongres kebudayaan baru-baru ini, bahwa pelestarian budaya harus dilakukan pada semua tingkat tataran. Baik pada tataran akademis, tataran institusional, dan tataran praktis. Keterlibatan generasi muda juga tidak boleh luput, mengingat merekalah yang akan memegang budaya lokal di masa mendatang.

Pemateri lain dari akademisi Soetomo WE menilai, pengambil kebijakan perlu menanamkan budaya lokal di kalangan pelajar. Khususnya bagi mereka yang masih mengenyam bangku belajar seperti dengan memasukan muatan jawa atau budaya lokal disetiap materi pembelajaran. (udi/din/fn)