GUNUNGKIDUL – Berbagai upaya dilakukan pemkab untuk memberantas penularan penyakit tuberkulosis (TB). Sebab, penularan penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis ini sangat tinggi.

Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, ada 472 kasus TB pada 2017. Sebanyak 11 penderita di antaranya meninggal dunia. Setahun berikutnya, 357 kasus. Sebanyak 11 penderita di antaranya meninggal dunia. Dengan begitu, jumlah penderita penyakit mematikan ini selama dua tahun terakhir 829 orang. Yang meninggal dunia 23 penderita.

”Penderitanya dari 18 kecamatan. Atau merata di seluruh wilayah,” jelas Murgiono, pengawas dan supervisor Dinkes Gunungkidul di kantornya Kamis (10/1).

Yang lebih mengkhawatirkan, penularan penyakit ini tidak melihat usia. Mengacu data dinkes, mayoritas penderita TB adalah usia produktif. Penularannya melalui udara. Kendati begitu, Murgiono menyebut di antara penderita TB ada yang mengidap penyakit lain.

”Seperti penyakit jantung dan yang lain,” ucapnya.

Meski mematikan, Murgiono menegaskan, penyakit ini bisa disembuhkan. Caranya dengan rutin mengonsumsi obat. Selama enam bulan penuh alias tidak boleh terputus. Bila tidak, penderita harus memulai mengonsumsi obat dari awal. Karena itu, keberadaan pendamping sangat penting. Agar mereka dapat mengontrol penderita rutin meminut obat.

”Jumlah obat yang diminum menyesuaikan berat badan. Sehari bisa 16 butir obat,” sebutnya.

Berdasar pengalaman, Murgiono menceritakan, ada beberapa penderita yang berhenti mengonsumsi obat. Lantaran mereka merasa sudah sehat. Padahal, jangka waktu enam bulan tak bisa ditawar.

”Ini yang kami sesalkan. Sebab, jika sampai kambuh lagi, penanganan bisa semakin sulit. Setiap hari harus disuntik,” ungkapnya.

Apa ciri-ciri penderita TB? Murgiono menyebut ada beberapa gejala. Salah satunya, batuk selama dua minggu berturut-turut.

”Sehingga, warga harus segera memeriksakan diri,” sarannya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul Anggraini menambahkan, penularan TB sangat cepat. Terutama di lingkungan kumuh. Bagaimana tidak, satu penderita bisa menularkan 10 hingga 15 orang.

Guna menekan penularannya, kata Anggraini, pemkab telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya melalui program lantainisasi. Program ini untuk mengurangi lingkungan kumuh.

Upaya lain adalah menerjunkan petugas ”ketuk pintu”. Mereka bertugas memantau kondisi kesehatan masyarakat. Di wilayahnya masing-masing.
”Obat juga tersedia di seluruh puskesmas. Gratis,” tegasnya. (gun/zam/fn)