JOGJA – Ribuan warga DIJ menggelar aksi damai di Alun-Alun Utara Jogja Rabu (9/1). Aksi bertajuk “Jogja Damai 9119” sebagai bentuk keprihatinan akan masih maraknya klithih di wilayah Jogjakarta. Yang berujung tindak pidana.

Kondisi tersebut menimbulkan keresahan masyarakat. Mereka merasa tak aman. Terutama ketika harus keluar malam. “Acara ini untuk mendorong pemerintah. Agar menggiatkan operasi malam,” ungkap koordinator aksi Ahmad Walidi.

Operasi malam bertujuan menekan kelompok-kelompok klithih. Selain meresahkan masyarakat, kata Ahmad, bocah klithih menjadi momok yang menakutkan. Acap kali aksi klithih disertai kekerasan. Para pelaku tak segan melukai orang lain. Kadang tanpa pandang bulu. Korban salah sasaran pun kerap berjatuhan.

Walidi mengklaim tak kurang dua ribu orang membanjiri Alun-Alun Utara Jogja dalam aksi 9119. Mereka dari berbagai lapisan masyarakat. Juga komunitas-komunitas pemuda. Selain berkumpul menyerukan pesan anti-klithihi di alun-alun, peserta aksi menyampaikan aspirasi di Kepatihan. Dilanjutkan ke Polda DIJ. Diikuti perwakilan tokoh masyarakat.

Walidi berharap, ke depan pemerintah dan aparat keamanan lebih solid dalam upaya menekan geng klithih. “Mungkin perlu diperbanyak penyuluhan di kampung-kampung oleh aparat kepolisian. Untuk memberikan pengertian kepada orang tua. Agar meminimalisasi anak keluar malam,” ungkapnya.

Erry Risnawan, partisipan Tim Khusus Antibegal (Tekab), mendukung aksi 9119 demi terwujudnya Jogjakarta aman dan nyaman bagi masyarakat dan wisatawan.

Menurut Erry, kehadiran aparat keamanan untuk patroli malam sangat dibutuhkan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat bisa membantu tugas kepolisian mencegah klithih. Dengan memberikan informasi secepat mungkin saat terjadi kejahatan di jalan. Massa aksi juga berharap istilah klitih tidak dipakai lagi.

Ketika peserta aksi 9119 menyuarakan aksi anti-klithih, aparat kepolisian menggelar razia pelajar bersepeda motor. Termasuk menyasar sekolah-sekolah yang para siswanya berpotensi menimbulkan kerusuhan.

Dua sekolah di wilayah Mlati dan Gamping menjadi sasaran pertama. Karena polisi mendengar kabar akan terjadi tawuran. Karena sehari sebelumnya terjadi pelemparan batu oleh siswa ke salah satu sekolah lainnya. Tawuran siswa dua sekolah tersebut kerap terjadi. Tidak hanya pagi dan siang. Tapi juga dini hari.

Tak kurang 32 kendaraan roda dua yang dikendarai siswa dua sekolah negeri tersebut terjaring razia. Beberapa kendaraan tak sesuai spesifikasi kelengkapan kendaraan. Ada juga yang tak dilengkapi surat tanda nomor kendaraan (STNK). Bahkan ada satu kendaraan yang kunci kontaknya pakai gunting.

“Mereka masih SMP. Tapi sudah bawa kendaraan. Seharusnya orang tua mereka tidak mengizinkan,” sesal Kasat Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda DIJ AKBP Yusyanto kemarin.

Yusyanto memastikan semua pelajar yang terjaring razia tak punya surat izin mengemudi (SIM). Karena itu mereka yang membawa STNK dikenai sanksi tilang. Sementara yang tak membawa STNK disita kendaraanya. Sebagian sepeda motor sitaan diamankan di mapolsek setempat. Sisanya dibawa ke pos polisi lalu lintas Jombor.

Para orang tua siswa yang terjaring razia diminta datang sendiri untuk mengambil kendaraan yang disita. Dengan membawa dokumen kelengkapan kendaraan. Saat itulah aparat kepolisian memberikan peringatan kepada para orang tua siswa terkait. Agar tidak memberi akses kendaraan kepada anak. Terlebih bagi pelajar usia kurang dari 17 tahun.

Dalam razia pelajar bermotor kemarin aparat juga menyasar pemilik rumah sekitar sekolah. Bukan rahasia umum jika tetangga sekolah kerap menyediakan garasi. Sebagai sarana penitipan sepeda motor siswa. Pengguna jasa dikenai tarif tertentu. Biasanya, para siswa titip motor dari pagi hingga jam pulang sekolah.

“Kami berikan surat peringatan kepada pemilik garasi ini,” tegas perwira menengah Polri dengan dua melati di pundak itu. Yusyanto mewanti-wanti pemilik rumah dekat sekolah terkait. Agar tak lagi meminjamkan lahan sebagai lokasi parker atau penitipan sepeda motor. “Padahal sekolah sudah tegas melarang (siswa bawa motor, Red). Tapi ternyata ada celah yang dimanfaatkan warga luar sekolah,” sesalnya.

Razia tersebut juga bertujuan mengikis kriminalitas jalanan. Yusyanto mengakui bahwa kendaraan adalah fasilitas utama aksi kriminalitas oleh pelajar. Sebagian besar kasus klithih pun para pelaku biasanya berkendara secara kelompok.

Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto tak memungkiri adanya peningkatan kasus kriminalitas jalanan. Medio 2017-2018. Pada 2017 tercatat 44 kasus. Sedangkan di 2018 ada 49 kasus. “Januari 2019 ini belum ada datanya karena bulan masih berjalan,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Yuliyanto mengklaim jajarannya tidak tinggal diam dengan maraknya klithih. Beragam operasi cipta kondisi digelar rutin. Termasuk patroli malam oleh anggota polsek, polres dan polda. Patroli malam menyasar pelaku kejahatan jalanan. Petugas berpatroli di kawasan-kawasan rawan kejahatan. Anak-anak nongkrong malam-malam pun menjadi sasaran tim patroli. Biasanya mereka akan dibubarkan.

Yuliyanto mengimbau masyarakat tak segan melapor. Jika mengetahui adanya tindak kriminalitas di wilayah masing-masing. Pelaporan itu berfungsi untuk pendataan lokasi rawan. Juga sebagai bahan pertimbangan dalam penerbitan sebuah kebijakan.  (cr7/dwi/yog/fn)