SLEMAN – Penyerang PS Mojokerto Putra Krisna Adi menerima sanksi oleh Komdis PSSI larangan bermain sepak bola profesional di Indonesia seumur hidup Desember tahun lalu. Sehari setelah sanksi turun, mantan penyerang PSIM Jogja ini mengalami kecelakaan di Jalan Wates, Gamping Sleman (24/12) dini hari.

Akibat kecelakaan tersebut, Krsina mengalami koma dan menjalani operasi kepala di RSUP dr Sardjito. Banyak kalangan menilai kecelakaan tersebut ada kaitannya dengan kasus match fixing yang menimpa mantan klubnya PSMP.
Johan Arga selaku kakak Krsina Adi menyatakan, pasca putusan sanksi Komdis PSSI, adiknya belum banyak bercerita. Termasuk, penalti janggal pada laga PSMP melawan Aceh United. “Sampai sekarang dia belum bercerita apa-apa,” ujar Johan di kediaman Krisna Rabu (9/1).

Johan mengungkapkan, Krisna sempat meminta bertemu dengannya untuk berkonsultasi tentang hukuman Komdis PSSI. Malam sebelum kecelakaan, Krisna sempat singgah di kediaman rumah Johan. Ketika itu, Krisna berjanji akan bercerita keesokan paginya.

Menurut Johan, ketika itu sang adik datang dalam kondisi lelah sekitar pukul 00.00. Sepulang dari kediamannya, Johan mendapatkan kabar adiknya mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju pulang ke rumah orangtuanya di Jalan Wates, Balecatur, Gamping Sleman.

Sepulang dari perawatan di RSUP dr Sardjito, Johan menuturkan adiknya sudah bisa diajak berkomunikasi. Namun, belum mampu bercerita yang membenai psikis, seperti persoalan sanksi yang menimpa dirinya. “Kami juga belum mau membebani psikis biar lekas pulih dulu,” jelasnya.

Akibat kecelakaan tersebut, Krisna sempat tak sadarkan diri. Bahkan, pemain jebolan Porda Jogja ini harus menjalani operasi kepala untuk mengangkat pendarahan yang diderita.

Dijelaskan, adikya harus menjalani tiga tahap operasi. Pada operasi pertama berupa pembersihan bagian pendarahan telah sukses dilakukan. Operasi selanjutnya, yakni rekonstruksi wajah, dan yang terakhir pemasangan batok kepala. “Rekonstruksi wajah sekitar dua minggu lagi,” jelasnya.

Dia pun mengungkapkan iktikad Satgas Antimafia Bola yang akan membantu Krsina Adi baik dari segi materi moril demi pemulihan. “Kalau memang benar, kami keluarga sangat terbantu sekali,” jelasnya.

Akibat cedera kepala tersebut, jelas Johan, sang adik masih bisa bermain sepak bola kembali. Untuk bisa kembali menendang sikulit bundar diperlukan waktu satu tahun pemulihan. “Dokter bilang Krisna, harus istirahat total 1 tahun. Sudah saya beri tahu dan dia juga bisa menerima,” terang pria yang pernah memperkuat PSIM Jogja itu.

Seperti diketahui, Krisna menjadi perbincangan hangat saat menjadi eksekutor penalti PSMP. Tendangannya melenceng jauh dari tiang gawang Aceh United dinilai janggal. Kejanggalan penalti itu membuat publik berspekulasi pertandingan tersebut telah diatur hingga meloloskan Semen Padang dan Kalteng Putra ke babak semifinal Liga 2.

Selanjutnya, Komdis PSSI tiga kali memanggil Krisna Adi untuk dimintai keterangan, namun yang bersangkutan tidak bisa hadir hingga pada akhirnya Komdis PSSI menjatuhi hukuman larangan bermain sepak bola seumur hidup. (bhn/din/fn)