GUNUNGKIDUL – Angka harapan hidup (AHH) naik. Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat AHH pada 2017 mencapai 73,82 persen. Alias meningkat 0,06 poin dibanding 2016. Dengan kata lain, bayi yang lahir pada 2017 bisa hidup hingga 2087.

Kasi Neraca Wilayah dan Analisis BPS Gunungkidul Amir Misbahul Munir berpendapat naiknya AHH ini salah satunya disebabkan membaiknya status kesehatan masyarakat. Seiring perbaikan sistem dan kualitas pelayanan kesehatan.

”AHH menjadi salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan,” jelas Amir di kantornya Rabu (9/1).

AHH merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Penhitungannya dengan pendekatan tak langsung (indirect estimation). Jenis data yang digunakan adalah anak lahir hidup (ALH) dan anak masih hidup (AMH). Data ALH dan AMH ini lalu dihitung dengan paket program Mortpack.

”Kemudian, muncul AHH,” ucapnya.

Menurutnya, AHH berkaitan dengan angka kematian bayi. Lantaran angka kematian bayi menjadi indikator AHH. Jika angka kematian bayi tinggi, angka harapan hidup akan rendah. Sebaliknya, jika angka kematian bayi rendah, angka harapan hidup tinggi. Kendati begitu, usia harapan hidup di Gunungkidul masih di bawah DIJ. Di mana usia harapan hidup di DIJ sekitar 74,71 tahun.
Hal ini, kata Amir, karena angka kematian bayi di Bumi Handayani dalam kategori hardrock. Artinya, penurunan angka kematian tajam secara drastis sulit terjadi.

”Kondisi tersebut juga terjadi untuk kondisi nasional. Penurunan angka kematian bayi terjadi secara gradual bahkan mengarah melambat,” ungkapnya.

Kendati hanya naik sedikit, Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengapresiasi peningkatan AHH. Itu membuktikan bahwa masyarakat semakin sadar dengan kualitas hidupnya.

”Ini yang kami harapkan selama ini,” katanya. (gun/zam/fn)