JOGJA- Nasihat Anggota Komisi A DPRD DIJ Slamet agar Rektor UGM Panut Mulyono mencontoh keteladanan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X dengan memenuhi panggilan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) ternyata manjur.
Terbukti Panut bersedia datang ke kantor ORI Perwakilan DIJ Jalan Wolter Monginsidi Jogja, Selasa (8/1). Kehadiran rektor itu sesuai dengan surat panggilan pertama yang dilayangkan ORI.

“Harus diapresiasi kesediaan rektor memenuhi panggilan ORI,” ungkap Slamet di sela mengadakan kunjungan kerja ke Kelurahan Suryatmajan, Danurejan, Jogja, kemarin. “Kalau tidak mau datang pasti mengundang polemik,” lanjutnya.

Rektor UGM datang sesuai jadwal. Panut datang sekitar pukul 10.00 dengan menggunakan mobil sedan Camry hitam AB 1949 CU. Saat tiba di kantor ORI, rektor tidak sendirian. Sejumlah pejabat teras UGM ikut mendampingi.
Di antaranya Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Paripurna Poerwoko Sudarga, Wakil Rektor Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ika Dewi Ana, Direktur Pengabdian Kepada Masyarakat Irfan D Prijambada, serta Kepala Bagian Hukum dan Organisasi Aminoto. Tak ketinggalan Kepala Bagian Humas dan Protokol Iva Ariani.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Sekitar satu jam, Panut berada di dalam ruangan. Pemanggilan terhadap orang pertama di Kampus Biru itu terkait dengan investigasi ORI atas dugaan maladministrasi penanganan kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa mahasiswi UGM saat KKN di Pulau Seram, Maluku, pada 2017 silam.

Panut mengaku mendapatkan tujuh pertanyaan. “Pak Kepala menanyakan bebagai hal terkait langkah-langkah yang telah dilakukan,” ujar Panut. Bapak kepala yang dimaksud Panut adalah Kepala ORI Perwakilan DIJ Budhi Masthuri.

“Kami berdiskusi dan menjelaskan hal-hal yang ditanyakan Pak Kepala. Semua sudah dijelaskan dengan baik,” terang rektor. Dari tujuh pertanyaan itu kemudian berkembang. Materi pertanyaan seputar prosedur penanganan kasus dari awal sampai akhir. Pertanyaaan diajukan karena ORI belum menemukan prosedur penanganan kasus secara lengkap.“Tentang tanggal dari sekian sampai ke sekian ada kekosongan (penanganan kasus). Alhamdulilah sudah clear,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Panut juga mengklarifikasi terkait dengan keengganannya memenuhi panggilan ORI. Sebelum melayangkan surat panggilan pertama, ORI mengajukan permohonan kehadiran pada 19 Desember 2018 dan 2 Januari 2019. Namun di dua agenda itu, Panut tak datang ke ORI. Alasannnya sibuk karena mempunyai banyak acara.

“Saya tidak pernah menolak hadir,” kilahnya. Paripurna yang ikut mendampingi Panut langsung menyahut. Atasannya itu datang ke kantor ORI sebagai bentuk itikad baik memenuhi panggilan. “Dari awal kami punya iktikad baik untuk bertemu dengan ORI,” katanya.

Sedangkan Budhi Masthuri mengakui ada banyak hal yang berhasil diklarifikasi dengan rektor. Termasuk adanya sejumlah temuan baru yang selama ini tidak diketahui ORI. Di antaranya, setelah kasus tersebut mencuat, UGM diam-diam membentuk tim pencari fakta (TPF). “Memang pembentukannya (oleh rektor) dilakukan secara lisan,” terangnya.

Terkait pertanyaan yang diajukan kepada Panut, Budhi menerangkan seputar peran dan ketugasan rektor. Kemudian tindak lanjut dalam merespons persoalan tersebut.

“Pak Rektor terbuka dan tidak ada yang ditutupi,” ujarnya. Namun terkait substansinya, Budhi belum bisa menyampaikannya ke media. Pertimbangannya hal itu menjadi bagian dari proses pemeriksaan.

Saat ini ORI telah menemukan sejumlah hal terkait kasus tersebut. Antara lain menyangkut dugaan maladministrasi. Yakni, penanganan kasus yang berlarut oleh pihak UGM. (kus/zam/fn)