SLEMAN – Desember 2018, Taman Denggung mendapat predikat Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Namun ternyata masih kumuh.

Apalagi, Kawasan Denggung dulu sering digunakan mangkal para waria (wanita pria). Saat ini, Denggung sudah bebas waria. Namun masih dijadikan tempat mabuk-mabukan anak muda.

Menurut penuturan warga sekitar Denggung, yang enggan menyebutkan namanya, Kamis malam (3/1) di Denggung ada perkelahian. “Pemicunya karena mabuk. Akhirnya salah paham dan berkelahi,” ujar dia (6/1).

Memang, saat malam Denggung sangat gelap. Karena banyak pohon rindang dan minim lampu penerangan. Pengawasan juga minim dilakukan. Sehingga disalahgunakan untuk hal negatif.

Menurut tukang parkir Denggung, Idin Purnomo, memang pernah ada yang kedapatan mabuk di Denggung. Diamankan pihak berwenang. “Kadang-kadang ada patroli dari pihak berwenang,” ujar Idin.

Saat banyak anak muda yang nongkrong pada malam hari biasanya menjurus ke hal negatif. “Kalau banyak yang nongkrong, biasanya ada yang bawa (minuman beralkohol),” kata Idin.

Para PKL Denggung yang beroperasi 24 jam tutup mata dengan aktivitas negatif tersebut. Salah seorang PKL, Erna Wati, selama tidak mengganggu, dia membiarkan.

Kepala UPT Stadion Maguwoharjo, Sumadi mengaku, penataan Denggung tidak bisa serampangan. Menata kawasan dengan banyak kepentingan tidak mudah. “Rencananya 2019 ini kami mulai penataan,” ujar Sumadi.

Dengung merupakan wajah Sleman. Menjadi lokasi yang dinilai tim untuk menentukan apakah Kabupaten Sleman bisa masuk Kabupaten Layak Anak (KLA) atau tidak. (har/iwa/fn)