GUNUNGKIDUL – Penyitaan mobil dinas (mobdin) yang dipakai Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Ngadiyono menuai beragam respons. Salah satunya, dari DPC Partai Gerindra Gunungkidul.

Purwanto, seorang pengurus DPC Partai Gerindra Gunungkidul mengatakan, partainya mengikuti prosedur yang berlaku. Dia tak mempersoalkan mobdin koleganya itu disita Bawaslu Sleman sebagai alat bukti.

”Kami mengikuti saja seperti apa mekanisme Bawaslu,” katanya saat dihubungi Minggu (6/1).

Yang jelas, Purwanto memastikan, penyitaan itu tak memengaruhi aktivitas partai. Begitu pula dengan aktivitas Ngadiyono.

Sebagaimana diketahui, Bawaslu Sleman menyita mobdin Ngadiyono di SPBU di wilayah Kalasan, Kamis (4/1). Mobil pelat AB 9 D tersebut disita sebagai barang bukti dugaan pelanggaran pemilu yang dilakukan Ngadiyono. Saat itu Ngadiyono kepergok Bawaslu Sleman membawa mobdin saat menghadiri kampanye calon presiden Prabowo Subianto di Hotel Prima SR, Sleman pada 28 November 2018.

Terkait penyitaan aset pemkab, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul Saptoyo tak mempersoalkannya. Dia mengikuti aturan main yang ditegakkan bawaslu. Namun, Saptoyo mengingatkan, penyitaan ini sebagai bentuk peringatan. Agar siapa pun yang menggunakan mobil pelat merah harus berhati-hati.

”Toh, sudah ada aturan penggunaannya,” ujarnya.

Berbeda dengan Saptoyo, Sekretaris DPRD Gunungkidul Agus Kamtono mengaku belum menerima keterangan resmi terkait penyitaan mobdin pimpinan dewan oleh Bawaslu Sleman. Dia hanya mendengar dari pemberitaan media massa. Dari itu, bekas kasat Pol PP ini memilih irit berbicara.

Sementara itu, Ngadiyono saat dikonfirmasi membenarkan mobilnya dijadikan barang bukti pleh bawaslu. Namun, ketua DPC Partai Gerindra Gunungkidul ini membantah mobil dinasnya disita. Dia berdalih sengaja menyerahkannya.
”Dengan bertemu di pom bensin,” dalihnya. (gun/zam/fn)