BANTUL – Sosok Slamet Widodo tak salah jika selalu dikaitkan dengan Persiba Bantul. Bek senior ini bahkan sudah 15 tahun membela Laskar Sultan Agung- julukan Persiba Bantul. Namun, dia akhirnya memutuskan gantung sepatu dari dunia sepak bola yang telah membesarkan namanya. Alasannya, gagal membawa tim yang bermarkas di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul itu naik ke Liga 2.

Ya, menyebut nama Slamet Widodo, tak salah jika kita akan teringat beberapa pemain dunia yang setia lama membela klubnya. Sebut saja Charles Puyol (Barcelona) Paulo Maldini (AC Milan), hingga pangeran Roma, Francesco Totti. Mereka adalah sejumlah nama pemain yang setia membela klub yang telah melambungkan namanya.

Nah, Persiba Bantul dipastikan kehilangan sosok Slamet di lini belakangnya. Pemain identik dengan nomor punggung 19 ini dipastikan pensiun dari dunia sepak bola profesional. “Sebenarnya masing ingin terus bermain. Tapi cedera yang saya alami membuat permainan menjadi tidak maksimal,” kata Slamet.

Sayang, akhir karir Slamet di Persiba tidak begitu manis. Bagaimana tidak, di penghujung karir, dia gagal membawa Persiba lepas dari kasta ketiga Liga Indonesia. Padahal, promosi ke Liga 2 menjadi target yang ingin dicapai oleh Laskar Sultan Agung. Di laga penentu Persiba kalah dari Bogor FC.

Pada babak 32 besar dan delapan besar Slamet sendiri lebih banyak duduk di bench. Cedera parah yang menimpanya membuatnya kalah bersaing dengan para yuniornya. Kapten Persiba ini di beberapa musim sebelumnya banyak berjibaku dengan cedera. “Karena cedera ini saya merasa tidak bisa memberikan sesuatu yang maksimal bagi tim. Tentnya kecewa tidak bisa membawa tim promosi,” jelasnya.

Usia Slamet memang memasuki masa-masa senja dalam karir sepak bola. Dari hati kecilnya, Slamet pun tidak ingin terlalu terburu-buru untul gantung sepatu. Apalagi, keinginan untuk membawa Persiba berada di kasta kedua liga Indonsia urung tercapai.

Namun, bila melihat pentingnya perkembangan tim di masa mendatang, tekad untuk gantung sepatu pun telah bulat dia putuskan. “Sudah saatnya yang muda berkiprah memajukan Persiba,” jelasnya.

Apalagi, Slamet sendiri sudah merasakan pengalaman bermain di Liga 1 saat masih bernama ISL. Bahkan, dia pun pernah merasakan manisnya mejadi juara Divisi Utama 2010. “Saya sudah merasakan capaian besar membawa Persiba berlaga di liga tertinggi. Ketika itu ISL,” jelasnya. (bhn/din)