Dhaup Ageng pernikahan putra sulung KGPAA Paku Alam X, BPH Kusumo Bimantoro dengan dr Maya Lakshita Noorya, akan digelar pada 5-6 Januari 2019. Rangkaian acara dalam Dhaup Ageng Pakualaman 2019 sudah dimulai dengan ritual bucalan pada Senin, 24 Desember 2019. Sedangkan rangkaian upacara panggih dan resepsi dilaksanakan di bangunan utama istana Pakualaman. Nah ini dia lima fakta dari Dhaup Ageng Puro Pakulaman.

Tradisi Leluhur dari Generasi ke Generasi

Penyelenggaran perkawinan BPH Kusumo Bimantoro dan dr Maya Lakshita Noorya disebut sebagai Dhaup Ageng karena diselenggarakan dengan mengikuti tatacara yang berlaku di istana Pakualaman.

Peristiwa ini diselenggarakan berdasarkan tradisi yang diagungkan dari generasi ke generasi dan selalu dinanti oleh masyarakat karena akan mempertontonkan sesuatu yang spektakuler dan tidak biasa.

(PUSAT MEDIA DHAUP AGENG)

Upacara Panggih dan Resepsi di Lokasi Istimewa

Rangkaian upacara panggih dan resepsi dilaksanakan di bangunan utama istana Pakualaman, yaitu Bangsal Sewatama.

Bangsal Sewatama ini hanya digunakan untuk penyelenggaraan beberapa peristiwa penting oleh Kadipaten Pakualaman, seperti Jumeneng Dalem, Ngabekten, serta Jamuan Istana untuk tamu khusus baik dari dalam maupun luar negeri.

(PUSAT MEDIA DHAUP AGENG)

Manifestasi Karakter Batara Surya dalam Asthabrata

Motif batik Surya Mulyarja dipilih menjadi tema Dhaup Ageng yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 5 Januari 2019. Surya Mulyarja bersumber pada iluminasi naskah Sestradisuhul (1847) yang dicipta pada masa Paku Alam II.

Surya Mulyarja merupakan manifestasi karakter Batara Surya dalam Asthabrata. Adapun karakter utama Batara Surya yang tersurat dalam Naskah Sestradisuhul adalah cermat, dermawan, dan memotivasi para muridnya untuk rajin berusaha agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin.

Motif batik Surya Mulyarja yang secara etimologi berasal dari kata surya yang berarti ”matahari” sebagai representasi Batara Surya, mulya berart ”luhur” dan arja berarti ”selamat”. Dengan demikian Surya Mulyarja merupakan doa atau harapan untuk meneladani karakter luhur Batara Surya.

Tarian Khusus dari Paku Alam X untuk Mempelai

Pada acara Dhaup Ageng akan dipergelarkan lima beksan. Pada saat resepsi ditampilkan tiga beksan, yakni Bedhaya Kembang Mas, Beksan Wilayakusumajana, dan Beksan Puri Melati.

Bedhaya Kembang Mas diciptakan secara khusus oleh K.G.P.A.A. Paku Alam X untuk mempelai. Bedhaya ini menggambarkan beberapa fase pertemuan calon pengantin sampai dengan upacara perkawinan, sekaligus berisi harapan dan doa agar pasangan pengantin menjadi pasangan lestari yang senantiasa dikaruniai kesejahteraan dan kemuliaan.

Sedangkan saat Pahargyan pada Minggu (6/1) disajikan dua beksan, yaitu Golek Prabudenta dan Beksan Lawung Alit.

(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Kolaborasi Tradisi dan Teknologi Masa Kini

Dhaup Ageng benar-benar menjalankan tata cara sesuai tradisi di Kadipaten Pakualaman. Bahkan wartawan yang bertugas juga wajib memenuhi tata tertib Dhaup Ageng. Misalnya saja wartawan yang meliput mengenakan busana putra Jawa peranakan dan untuk perempuan mengenakan kebaya Jawa lengkap.

Menariknya, semua informasi tentang Dhaup Ageng bisa didapatkan di website atau aplikasi Jogja Istimewa. Sungguh sangat istimewa ya, karena bisa mengolaborasikan tradisi dan teknologi masa kini. (ila)