BANTUL – Para perajin kayu di Desa Wonolelo masih ketar-ketir menghadapi persaingan bisnis furnitur. Mereka khawatir produknya kalah saing. Lantaran mereka masih memiliki seabrek pekerjaan rumah. Mulai permodalan, peralatan, inovasi produk, hingga pemasaran.

”Sehingga kelasnya masih IKM (industri kecil menengah),” jelas Lurah Desa Wonolelo Ahmad Furqon di sela penyerahan bantuan alat produksi pertukangan di Dusun Ploso, Wonolelo, Jumat (28/12).

Berbagai persoalan itu saling berkelindan. Furqon menceritakan, para perajin kayu selama ini menjual produknya dengan cara dititipkan ke toko furnitur. Namun, pemilik toko sering menunda pembayaran. Meski, produk perajin telah laku terjual. Akibatnya, proses produksi perajin terganggu.

”Sehingga perputaran bisnis tidak berjalan baik,” ujar Furqon menyebut 50 perajin tersebar di delapan pedukuhan.

Jumarudin, seorang perajin membenarkannya. Menurutnya, para perajin di Wonolelo hanya memproduksi beberapa jenis mebel. Yang paling banyak meja, kursi, dan lemari. Itu pun dengan model konvensional. Padahal, perkembangan dunia furnitur cukup cepat. Terutama, desain produk. Karena itu, dia meminta pemerintah turun tangan memberikan pelatihan. Agar perajin dapat terus berinovasi.

”Biar bisa bersaing,” katanya.

Menurutnya, bantuan alat pertukangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ cukup membantu. Setidaknya perajin dapat meningkatkan jumlah produksi.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi B DPRD DIJ Aslam Ridlo berkomitmen bakal mendorong Bank BPD DIY ikut membantu persoalan permodalan. Agar bank berstatus BUMD itu memberikan kredit usaha dengan modal ringan. Atau menyalurkan corporate social responsibility.

”Para perajin kayu ini memang butuh didampingi terus sampai mereka maju berkembang,” katanya. (zam/fn)