Polsek Temon belakangan ini paling sibuk di antara polsek di lingkungan Polres Kulonprogo. Banyak dinamika yang mengiringi proyek mercusuar New Yogyakarta International Airport. Kapolsek Temon Kompol Setyo Hery Purnomo menjadi sosok penting di balik kelancaran megaproyek itu. Seperti apa kiprahnya?

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

SIANG itu dia hanya memakai sandal jepit. Penampilan pria berseragam coklat khas polisi itu juga sederhana. Jauh dari kesan ”serius” yang biasa melekat pada perwira menengah.

”Baru pulang dari Salat Jumat,” ucap Kompol Setyo Hery Purnomo, sosok pria berseragam coklat itu, di Mapolsek Temon, Kamis (21/12).

Di lingkungan Polda DIJ, nama dan sepak terjang bapak dua ini tidak asing lagi. Dia telah lama malang-melintang mengabdi di berbagai wilayah di DIJ. Berdinas dari satu polres ke polres lainnya. Terbaru sebagai Kapolsek Temon.
”Sudah genap tiga tahun di Temon,” kenang pria kelahiran Blora ini.

Selama bertugas itu pula, Hery, sapaan Setyo Hery Purnomo, mengetahui persis lika-liku perjalanan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Mulai proses sosialisasi, pembebasan dan pengosongan lahan, hingga pembangunan.

Bekas kasatlantas Polres Bantul ini lantas mengingat salah satu peristiwa yang masih lekat dalam ingatannya. Persisnya saat proses pengosongan lahan bandara bergulir. Sebagian warga keukeuh menolak. Bahkan, di antara mereka yang mengumpat hingga menarik-narik badannya.

Sebagai orang yang kenyang makan asam garam, Hery memahami sikap sebagian warga terdampak bandara itu. Lantaran bangunan yang dirobohkan adalah tempat lahir dan tumbuh mereka.

”Karena setiap tempat memiliki nilai historis yang melekat dengan warganya, sehingga jika ada dinamika yang meninggi itu wajar,” tuturnya.

Namun, Hery terus mengingatkan seluruh anggotanya. Untuk konsisten ngemong warga terdampak. Terutama saat mengedukasi seputar peraturan perundang-undangan. Agar proses pengosongan lahan minim gejolak. Hasilnya, seluruh rangkaian salah satu proyek strategis nasional itu memang tanpa gesekan horisontal yang cukup besar.

”Hal ini juga karena peran anggota di bawah. Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak kepolisan menjadi kunci utama,” pujinya.

Memiliki perawakan tinggi besar, bapak dua anak ini berusia setengah abad. Karirnya juga mentereng. Namun, karir di kepolisian pria kelahiran 15 Desember 1968 ini bisa dikatakan benar-benar dari bawah. Dia lulus Bintara Polri 1989. Kemudian, dia mengikuti pendidikan Scapa Polri 2002-2003.

”Lulus bintara saya pertama kali ditugaskan di Pekalongan, wilayah pesisir utara sana. Mungkin saya banyak pengalaman dari sana ketika sekarang ditugaskan di Polsek Temon,” kata Hery menyebut salah satu kunci mendekati masyarakat warga terdampak yang notabene pesisir dengan cara membaur dan menyatu dengan mereka.

Baginya, beban tanggung jawab sebagai Kapolsek Temon sama dengan wilayah lainnya. Bedanya, wilayah Temon saat ini ada proyek strategis nasional, sehingga menuntut pendekatan yang lebih manusiawi. Personel Polsek Temon juga lebih banyak dibanding lainnya. Saat ini 70 personel.

”Kuncinya harus bisa ngemong semua pihak. Dan tidak mudah marah.

Khususnya masyarakat berikut dengan berbagai dinamika yang terjadi,” ujar pria yang tinggal di Jatisawit, Balaicatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, ini.

Keluarga Hery terbilang pengabdi tulen Korps Bhayangkara. Istrinya, Lucila Wahyu Kartika Ujianti, 44, juga berdinas sebagai anggota kepolisan. Tepatnya di Polda DIJ. Putra pertamanya bernama Axel Rizky Herdana kini juga tengah menyelesaikan pendidikan akhir di Akademi Kepolisan.

Hery menaruh harapan warga Temon memanfaatkan pembangunan NYIA di wilayahnya. Agar keberadaan bandara berskala internasional itu membawa kesejahteraan.

”Masyarakat juga harus berhati-hati. Jangan sampai menjadi korban kecelakaan,” ingat bekas Kasatlantas Polres Kulonprogo ini. (zam/fn)