GUNUNGKIDUL – Peringatan bagi buzzer politik atau siapa saja yang aktif menggunakan media sosial untuk kampanye. Pores Gunungkidul sudah melakukan patroli cyber. Meski baru pemantauan dan menetralisir jika ada informasi menyesatkan.

“Jika sudah menjurus kepada kriminal, nanti kewenangan ada di satuan reserse dan kriminal,” kata Kabag Humas Polres Gunungkidul Iptu Anang Prastawa saat dihubungi Selasa (11/12).

Beranggotakan lebih dari empat orang, tugasnya ikut berlayar ditengah-tengah warganet. Bisa muncul dalam wujud akun resmi polres, maupun menyamar sebagai akun pribadi.

“Kami mengawasi aktifitas akun publik medsos yang ada di Gunungkidul. Jika ada ketidakberesan kami langsung bergerak,” ujarnya.

Respon yang dilakukan biasanya menjawab langsung dalam betuk copy paste link terpercaya, jika ada warganet bingung akan tersebarnya info. Tidak jarang juga tim patroli ciber memberi tanggapan dari direct message (DM) yang masuk.

Kasus terbaru, isu penangkapan seorang perempuan yang dituduh melakukan penculikan. “Secepatnya kami respon dengan cara memposting isu serupa di akun medsos resmi Polres Gunungkidul dengan melebeli foto dengan tulisan hoaks,” terangnya.

Sudah ada berapa perkara yang ditangani terkait dengan pelanggaran ITE? Anang mengatakan tahun ini ada tiga kasus. Dua diantaranya dilakukan oleh anak di bawah umur. Dua anak tersebut menulis nada ujaran kebencian di akun media sosial.

“Sempat diamankan, kemudian dikembalikan kepada orang tua masing-masing guna dilakukan pembinaan lebih lanjut,” bebernya.

Sementara itu, Kapolres Gunungkidul AKB Ahmad Fuady menegaskan sejauh ini memang belum ada kasus pelanggaran ITE berbau terorisme. “Akan tetapi, kasus ujaran kebencain sudah ada dan ditangani,” kata Ahmad Fuady. (gun/pra/fn)