JOGJA – Manajemen PSIM Jogja menyesalkan adanya insiden kericuhan yang mewarnai duel PSIM Jogja vs PS Tira dalam lanjutan babak 64 besar Piala Indonesia di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Selasa (11/12). Meskipun, manajemen juga menyayangkan beberapa keputusan di lapangan yang dianggap juga mejadi pemicu pecahnya kerusuhan.

“Kami jelas menyayangkan, dengan kondisi PSSI yang masih banyak disorot kok ya menerjunkan petugas yang seperti itu. Termasuk salah satu memicu dengan keputusan yang tidak pas. Sayang sekali,” kata Sekretaris PSIM Jarot Sri Kastawa kepada Radar Jogja.

Jarot mengatakan, manajemen selalu berusaha membawa klub untuk eksis dan berprestasi. Meskipun disadari kondisi tim masih belum maksimal. Jika nantinya suporter ingin menyampaikan masukan dan kritikan kepada manajemen, pihaknya akan terbuka dengan hal tersebut.

“Kalau menyampaikan aspirasi ya tidak apa-apa. Kami evaluasi total, menyeluruh dan sekaligus persiapan musim depan,” tuturnya.

Dari informasi yang dikumpulkan, rencananya ada aksi walkout 13 menit sebelum pertandingan selesai. Yaitu suporter akan keluar dan berkumpul di depan pintu VIP untuk melakukan orasi. Namun belum sempat hal itu dilakukan, justru pecah kericuhan dengan masuknya penonton ke dalam lapangan.

Berbeda dengan pertandingan-pertandingan PSIM sebelumnya, pada laga melawan PS Tira itu suporter kompak mengenakan kaus berwarna putih. Hal itu mempunyai arti mutih atau lelayu yang menilai manajemen PSIM telah bobrok.

Selain itu, seperti terlihat di pinggir lapangan, banyak spanduk yang ditempelkan suporter bernada protes atau kritikan kepada manajemen Laskar Mataram. Walkout di 13 menit sebelum pertandingan bubar juga ingin menunjukkan bahwa sudah 13 tahun PSIM nirprestasi. (riz/ila)