SLEMAN – Lengahnya pengawasan dan kelalaian pemilik motor masih menjadi penyebab utama aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Kasus yang ditangani Polda DIJ, mayoritas akibat kelalaian pemilik yang meninggalkan kunci di kendaraan maupun parkir sembarangan.

Selama dua minggu, polisi mengamankan 24 kendaraan hasil curanmor. Terdiri dari 23 kendaraan roda dua dan satu kendaraan roda empat. Adapula barang bukti kunci T untuk membobol kendaraan.

“Dari operasi curanmor Progo 2018 kami mengamankan 29 tersangka. Tiga di antaranya nontarget operasi. Tercatat ada enam kelompok yang beraksi,” kata Dirreskrimum Polda DIJ, Kombespol Hadi Utomo (11/12).

Para pelaku sudah masuk daftar hitam kepolisian. Baik sebagai pelaku baru, berulang kali beraksi, hingga residivis. Perannya beragam, mulai pemetik, pengawas, penjual, hingga penadah.

Setiap beraksi, komplotan membutuhkan waktu lima hingga 10 menit. Sudah termasuk merusak kunci kendaraan hingga membawa kabur.

“Kejadian lalai juga banyak, seperti kunci tertinggal atau parkir di lokasi yang tidak terawasi. Peran kepolisian sejatinya hanya ungkap kasus, kalau pengawasan, tanggung jawab pemilik kendaraan,” ujar Hadi.

Penjualan kendaraan tidak hanya di Jogjakarta. Bahkan beberapa kendaraan dijual ke luar pulau Jawa. Tujuannya menghilangkan jejak.

“Wilayah Polres Sleman paling tinggi angka curanmornya. Ada enam kasus curanmor yang berhasil diungkap. Tersangka ada sembilan dengan barang bukti 12 kendaraan,” kata Hadi.

Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Anggaito Hadi Prabowo mengakui curanmor di Sleman tinggi. Antisipasi telah dilakukan dengan patroli maupun imbauan kepada masyarakat.

“Kejahatan bisa terjadi kapanpun. Lokasi rawan biasanya kos-kosan, karena kadang ada yang parkirnya asal-asalan atau pemilik kos tidak punya lahan parkir,” kata Anggaito. (dwi/iwa/fn)