Sampah plastik sudah menjadi ancaman lingkungan di depan mata. Jika tidak mampu mengelola dengan baik, beberapa tahun ke depan bumi akan tenggelam gara-gara sampah plastik. Isu pengelolaan sampah plastik itu juga masuk dalam program Sekolah Adiwiyata.

Termasuk yang dilakukan SDN Serayu. Sekolah ini menerapkan kebijakan. Jangan ada sampah plastik di lingkungan sekolah. Kebijakan itu diwujudkan melalui surat edaran (SE). Sekolah memberikan pengertian kepada para orang tua, pedagang sekitar sekolah dan kantin sekolah.

Kepada orang tua diberitahukan agar anak dibekali botol minuman dari rumah. Tujuanya supaya anak tidak membeli botol minuman plastik di sekolah atau sekitarnya. Sekolah menyediakan air minum bagi murid dan guru.

Bagi para pedagang di sekitar sekolah agar tidak menjual makanan atau jajanan berbungkus plastik. Wadah dari bahan plastik berdampak tidak baik bagi kesehatan karena memiliki kandungan bahan kimia.

Makanan dan jajanan juga harus sehat. SDN Serayu menjalin kerjasama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BB POM) Yogyakarta. Secara periodik mengadakan pengawasan dengan mengecek makanan di kantin dan penjual di sekitar sekolah.

“Itu kami lakukan karena pernah ditemukan ada makanan mengandung boraks dan formalin. Pedagangnya langsung kami komunikasikan dan mintai data diri untuk pertanggungjawaban,” jelas Upik.

Seiring lingkungan yang bersih dan sehat, kasus demam berdarah dengue (DBD) tidak ditemukan di SDN Serayu. Sekolah ini juga memiliki Propesor. Kependekan dari produk pengolahan sampah organik Serayu. “Slogannya Sambal Terasi. Akronim dari sampah bersih lingkungan tertata rapi indah dan bersih,” sambung dia.

Di samping itu, SDN Serayu juga mengolah botol air minum kemasan dan bungkus sampah dari bahan plastik. Yakni dibuat Ecobrick. Ecobrick adalah pengolahan sampah plastik menjadi material ramah lingkungan. Caranya, botol berukuran 1,5 liter diisi sampah plastik seberat 500 gram. Sedangkan botol berukuran 600 mililiter diisi 200 gram sampah plastik.

Untuk memudahkan, sampah lebih dahulu digunting kecil-kecil. Tongkat kayu atau bambu digunakan menekan sampah di botol agar semakin padat. Nantinya, botol yang sudah padat dapat digunakan untuk membuat kursi, meja atau pot bunga. Bahkan dinding pembatas. Ecobrick bisa menjadi material pengganti batu bata untuk membuat sebuah kolam. (riz/kus/fn)