SLEMAN – PSS Sleman menutup musim kompetisi Liga 2 dengan raihan juara. Pendukung Super Elang Jawa bersuka cita. Namun sempat menjadi perbincangan di media sosial saat perayaan penyambutan dan tasyakuran PSS Juara Liga 2, Kamis (6/12).

Sebab, dalam bus yang digunakan untuk membawa pemain dari Lapangan Sendangadi ke Lapangan Pemda tidak ada logo Slemania sebagai bagian dari suporter PSS. Hal itu sempat ditanyakan oleh akun @slemanians.

Ternyata, usut punya usut perayaan tersebut adalah ide dari suporter BCS dan bukan termasuk dari rencana manajemen. ”Acara perayaan PSS juara berasal dari inisiatif BCS. Direncanakan kurang dari waktu 2 hari. Kami susun sedemikian rupa. Kami rencanakan tanpa sepengetahuan manajemen PSS Sleman dan bersifat kejutan. Acara ini bertujuan memberikan bonus kepada pemain sebesar Rp 200 juta,” cuit akun twitter Brigata Curva Sud.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring semakin banyaknya jumlah suporter BCS, hal itu diikuti dengan semakin menurunnya warna hijau di tribun utara. Slemania masih eksis. Mereka masih setia mendukung dalam laga kandang dan tandang. Meskipun jumlahnya tak sebesar satu dekade lalu.

Jika saat ini ditanyakan PSS milik siapa, tentu jawabannya adalah tetap milik masyarakat Sleman dan Sleman Fans dimanapun berada. Baik itu suporter BCS maupun Slemania.

Tapi jika bukan jawaban filosofis yang diharapkan dari pertanyaan siapa pemilik klub PSS, maka tentunya klub PSS di bawah PT Putra Sleman Sembada (PSS). Menarik untuk mengetahui siapa pemilik saham perusahaan tersebut. Dari data Ditjen AHU yang diakses per 4 April 2018, akta terakhir PT PSS ditetapkan pada 14 April 2016.

Modal dasar perusahaan yang beralamat di Stadion Maguwoharjo Sayap Barat itu berjumlah Rp 5 miliar dengan jumlah lembar saham 5.000 dengan harga per lembar saham Rp 1 juta. Sedangkan modal yang ditempatkan atau disetorkan total Rp 2.251.000.000 terbagi dalam 2.251 lembar saham. Dari jumlah tersebut, mayoritas dikuasai oleh pengusaha Soekeno dengan seribu lembar saham.

Soekeno adalah CEO Muncul Grup. Muncul Group bergerak dalam bisnis mesin fotokopi dan memiliki beberapa anak perusahaan dengan ratusan cabang dan diler di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya masih bergerak di sektor yang berhubungan dengan bisnis fotokopi, baik untuk penjualan atau persewaan mesin, remanufaktur, atau pembuatan tinta. Di antaranya adalah PT Usaha Digdaya Muncul, PT Muncul Sukses Abadi, PT Buana Citra Abadi, dan PT Digitone Coproration.

Selain itu, beberapa anak perusahaannya juga bergerak di sektor bisnis lain, seperti PT Muncul Digdaya Express yang bergerak di bidang transportasi angkutan kepabeanan, PT Muncul Properti Makmur yang bergerak di bidang properti dan operasional hotel, serta PT Muncul Boga Makmur yang menjadi pemegang merek franschise sejumlah brand makanan dan minuman internasional di Indonesia.

Sebagai Dirut PT Garuda Mitra Sejati, Soekeno juga mempunyai unit bisnis berupa Jogja City Mall, The Rich Hotel, Top Malioboro Hotel, D’Salvatore Hotel, dan yang terbaru pusat perbelanjaan Sleman City Hall.

Soekeno mulai merapat ke PSS sejak musim 2011/2012 ketika awal PT PSS terbentuk. Dalam akta notaris No 78 tanggal 26 April 2012 Soekeno sebagai Direktur Pemasaran. Selanjunya dengan UD Muncul sebagai sponsor ketiga setelah Teh Poci dan Air Asia. Ketika itu PSS bermain di Divisi Utama LPIS. Di PT PSS saat ini, pria kelahiran Malang 18 Februari 1960 itu menjabat direktur utama.

 

Dikelola Keluarga Besar Supardjiono-Subardi

Pemilik persentase saham terbesar kedua di PT PSS atas nama almarhum Supardjiono. Pak Pardji, demikian sapaannya, memiliki 951 lembar saham PT PSS atau sekitar 42 persen. Keluarga besar Supardjiono memang dikenal dekat dengan PSS. Sebelum muncul nama Supardjiono, lebih dulu muncul adalah sang kakak, Subardi. Mbah Bardi, sapaannya, saat ini lebih dikenal sebagai Ketua DPW Nasdem DIJ. Sebelumnya Mbah Bardi mengisi posisi Manajer/Ketua Harian PSS Sleman medio 1992-2004.

Pak Pardji seperti juga Mbah Bardi dikenal loyal dengan PSS. Pengusaha konstruksi atau kontraktor itu memulai membangun kembali PSS setelah tidak lagi mendapat anggaran dari pemerintah sejak 2011/2012. Selain pernah mengisi posisi Direktur Utama PT PSS, Pak Pardji juga pernah berada di kursi manajer. Prestasinya adalah mengantarkan PSS juara Divisi Utama LPIS 2013.

Meskipun tersandung kasus Sepakbola Gajah pada Divisi Utama 2014, suporter tetap menganggap Pak Pardji salah satu sosok yang ikut membesarkan PSS. Pria kelahiran 9 November 1963 itu terkena serangan jantung saat berada di Kantor PT PSS dan meninggal pada 24 Agustus 2016. Ketika itu PSS dalam perjalanan menuju delapan besar ISC-B 2016.

Dalam susunan manajemen PSS musim 2018 terdapat nama Dewanto Rahadmoyo Nugroho. Dewo, sapaannya, adalah keponakan Supardjiono atau putra Mbah Bardi sebagai representasi keluarga. Jalinan keluarga kakak-adik di PSS itu masih bisa ditambahi pelatih Seto Nurdiantoro. Seto adalah suami Anita Kurniawati. Anita adalah anak sulung Subardi atau kakak Dewanto.

Besan Mantan Presiden RI Juga Punya Saham

 Selanjutnya ada nama Bambang Sukmonohadi sebagai pemegang saham dan juga Komisaris Utama PT PSS. Bambang memiliki hampir 7 persen saham atau 150 lembar saham senilai Rp 150 juta. Bambang adalah pengusaha properti yang juga besan Megawati Sukarno Putri.

Putra Bambang yakni Hapsoro Sukmonohadi adalah suami Puan Maharani. Pria kelahiran Wonosobo, 10 November 1944 itu hadir sejak awal terbentuknya PT PSS. Konon, ketika Pengcab PSSI Sleman tak mampu membentuk perseroan terbatas sesuai regulasi PSSI, Bupati Sleman Sri Purnomo ketika itu meminta Bambang dan Soekeno membentuk PT untuk mengelola PSS. Di DIJ, bersama dengan KGPH Hadiwinoto, Sugiharto Soeleman, dan KRMT Indro ”Kimpling” Suseno, Bambang, dan Soekeno juga menjadi pendiri Jogja Galery pada 2006.

Kemudian, pemilik saham selanjutnya ada Yoni Arseto dan Antonius Rumadi. Ke duanya memiliki persentase yang sama yaitu 50 lembar saham atau Rp 50 juta. Yoni adalah pengusaha pemilik sebuah SPBU di Jalan Kaliurang. Pernah menjadi Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia HIPMI DIJ. Di PSS, Yoni pernah berada di posisi direktur teknik.

Sedangkan Rumadi adalah pensiunan guru SMA. Dia mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Rumadi juga menjabat Ketua Ikatan Alumni Universitas Sanata Dharma (Ikasadha). Sebelumnya Rumadi lama menduduki posisi manajer dan manajer operasional PSS. Sampai pada musim 2018 posisi manajer tim ditempati Sismantoro dan Dewanto Hadmoyo.

Dua pemilik saham terakhir adalah Djaka Waluja dan Pudji Prasetyo. Masing-masing mempunyai saham sebanyak 25 lembar atau senilai Rp 25 juta. Djaka pernah berada di posisi bendahara, direktur keuangan PT PSS dan saat ini sebagai Humas PT PSS. Sementara Mbah Pudji saat ini berposisi sebagai Sekretaris PT PSS. (riz/ila)