Tata rias pengatin atau paes ageng tak hanya milik Keraton Jogjakarta. Gaya tersebut sudah menjadi milik masyarakat. Siapa pun dapat menggunakannya saat pernikahan. Paguyuban Pecinta Balik Indonesia Jagad berusaha melestarikan gaya riasan pengantin yang indah itu.

Dwi Agus, Sleman

Tata rias pengantin dan busana khas Kraton Jogjakarta sudah menjadi tren tersendiri dalam khazanah pengantin. Diwariskan oleh nenek moyang, paes ageng tetap menjadi idola hingga saat ini. Bukan sekadar riasan dan tata busana. Lebih dari itu, paes ageng merupakan sebuah peninggalan budaya yang tetap lestari.

Inilah yang coba dilestarikan Paguyuban Pecinta Balik Indonesia Sekar Jagad. Komunitas ini tak hanya fokus pada batik. Mereka juga memiliki minat tinggi terhadap olahan batik. Salah satunya adalah batik dalam busana tradisional gaya Keraton Jogjakarta. Termasuk batik dalam acara pernikahan.

”Sejak bergabung dengan Republik, larangan tersebut sudah mulai terbuka. Diizinkan menggunakan tapi memang harus tahu makna dan tujuan dari setiap motif. Lalu, bisa menempatkan diri saat menggunakan busana khas keraton maupun motif batiknya,” jelas Dewan Ahli Sekarjagad Mari Tjondronegoro di Pendapa Royal Ambarrukmo Jogjakarta beberapa hari lalu.

Mari mengisahkan salah satu teknik tata busana milik Keraton Jogjakarta. Yakni, kain kampuh yang menjadi busana khusus seremonial. Konon busana ini hanya bisa dipakai oleh kerabat dan pejabat di lingkungan keraton. Kain kampuh atau juga sering disebut dodot merupakan kain yang lebarnya dua kali lebar kain pada umumnya. Sedangkan panjangnya lebih dari meter. Dihiasi perhiasan khusus.

Kini kain kampuh sudah identik dengan busana pengantin. Padahal, hingga era Sri Sultan Hamengku Buwono VII, kain kampuh merupakan busana wajib. Bahkan, kerabat keraton kerap memakai sebagai tata busana keseharian.

”Dulu sudah terbiasa pakai harian sehingga setiap orang bisa memakai sendiri. Tapi memang konsekuensinya tidak nyaman untuk aktivitas,” ujarnya.

Mari menuturkan, seorang raja atau sultan pun kerap memakai busana adat ini. Setiap sultan memiliki warna kesukaan yang berbeda. Itu tecermin dalam tengahan yang dipakai sebagai pelengkap kain kampuh.

Pemakaian kain kampuh antara seorang raja dan abdi dalem berbeda. Taktala jumenengan, Sri Sultan Hamengku Buwono X tata busana sang raja menggunakan jumputan. Berbeda lagi dengan para abdi dalem yang tidak memakai tengahan.

Seiring bergulirnya waktu, kain kampuh menjadi busana pengantin. Bedanya, untuk pengantin, tengahan berwarna putih. Maknanya adalah pengantin harus bersih dan suci. Selain itu, juga mengenakan dodot yang panjang kainnya bisa hingga tujuh meter.

”Nah ada filosofinya juga tapi tergantung motif. Seperti blumbangan dengan motif lidah api. Ini menunjukan unsur kehidupan manusia. Blumbangan adalah tempat air lalu ada lidah api. Air dan api ini simbol kehidupan,” jelasnya.

Ketua DPP Ahli Rias Pengantin Jogjakarta Listiani Sintawati Adam mengakui tidak mudah mengimplementasikan busana tradisional keraton dalam kehidupan masyarakat. Misalnya dalam penggunakan pendodot. Satu orang belum tentu bisa merampungkan pemasangan dodot dengan cepat.

Listiani memastikan hampir semua perias di Jogjakarta paham penggunaan dodot. Terutama perias yang memiliki basis rias tradisi. Bahkan, ada aturan tak tertulis di kalangan para perias tradisi. Mereka tidak mau menggunakan dodot instan sebagai busana pengantin tradisional.

”Terbiasa menggunakan dodot minimal sepanjang empat meter. Terkadang memang bisa lebih panjangnya. Disesuaikan dengan bentuk tubuh pengantin,” katanya.

Sebagai penata rias, dia mengakui keindahan busana tradisi keraton. Hanya, tidak semua orang bisa menggunakan busana khas keraton. Setidaknya, perlu ada penyesuaian terhadap jenis acara yang akan dihadiri.

”Tata rias paes ageng memang menggunakan kain kampuh dan dodot. Mengambil asli dari kagungan Keraton Jogjakarta. Tapi, memang tidak berani menyamai untuk motif-motif tertentu,” ujarnya.

Listiani menuturkan, ada jeda cukup lama hingga akhirnya masyarakat umum bisa mengenakan busana keraton. Bahkan, hingga saat ini masih ada penyesuaian agar tidak menabrak norma. Termasuk mengenakan kampuh tengahan berwarna putih.

Awalnya, dia mengakui bahwa makna putih adalah suci dan bersih. Tapi, untuk menghadirkan tata rias dan busana, para perias memilih warna berbeda. Warna berbeda dipakai mulai dari pemilihan tengahan hijau hingga biru toska.
Seiring waktu berjalan, para perias paes ageng mulai memahami. Terlebih, forum-forum diskusi tata rias dan busana tradisional semakin melimpah. Bahkan, peminat tata rias gaya keratin sebagai rias pengantin di masyarakat terus meningkat.

”Riasan paes ageng itu sangat indah. Apalagi ada hiasan prada emas. Memang untuk setiap gaya baik Solo, Jogjakarta, maupun daerah lain berbeda. Tapi, semuanya sangat indah dan peminatnya tinggi,” katanya. (amd/fn)