SLEMAN – Ingin meneruskan ‘’usaha’’ sang adik berjualan sabu, DA alias Ompong, 47, berurusan dengan polisi. Dia bersama adiknya kini ditahan di sel Polres Sleman. Ompong ditangkap jeda sebulan usai adiknya ditangkap.

Kanit I Sattesnarkoba Polres Sleman, Ipda Galan Dharmawan mengatakan, keduanya terlibat jaringan sama. Usai menangkap sang adik, polisi melacak Ompong. Terdeteksi di Nglinggi, Klaten, Jawa Tengah.

“Ditangkap berdasarkan pengembangan kasus adiknya. Ternyata sebagai pengguna sabu aktif,” kata Galan Minggu(18/11).

Ompong saat ditangkap sedang mengonsumsi sabu. Polisi berhasil mengamankan tiga paket sabu 10,70 gram, satu alat isap, dan satu pipet kaca.

Ternyata Ompong tidak sekadar pemakai. Polisi membuktikan pria tersebut juga mengedarkan sabu. Modusnya dengan turun alamat untuk mengelabuhi polisi.

Sabu yang dia beli dipecah dalam paket hemat. Kemudian dia edarkan ke pengguna. Antara bandar besar, Ompong, dan pembeli tidak saling kenal.

“Biasanya transaki kepada bandar sebulan sekali. Rutinnya ambil lima gram per minggu, tapi sebelum ditangkap sempat ambil 10 gram,” ujar Galan.

Alasan ekonomi menjadi alasan Ompong. Pengangguran tersebut mengaku terpaksa. Jualan sabu mendatangkan keuntungan cepat.

Keduanya dikenai Pasal 114 ayat (2) dengan ancaman kurungan seumur hidup dan denda paling banyak Rp 10 miliar. Lalu Pasal 112 ayat (2) ancaman hukuman 12 tahun dan denda Rp 8 miliar.

“Juga pasal 127 ayat (1)a UU 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman empat tahun penjara. Masih kami lacak bandarnya,” kata Galan.

Ompong tahu adiknya telah tertangkap. Sabu yang dijual Ompong di antara merupakan ‘’peninggalan’’ sang adik. “Saya tahu adik saya sudah dipenjara,” kata Ompong. (dwi/iwa/by/mg3)