Adanya kesepakatan untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Purworejo di tanggal 27 Februari 1831, diharapkan akan menghentikan berbagai polemik yang berkembang selama ini. Dengan usia yang lebih muda diharapkan akan membawa semangat baru, energi baru dan semua harus mampu menunjukkan paradigmanya.

“Sudah ada bukti otentik di mana tidak ada lagi pertentangan tentang Hari Jadi Purworejo,” ujar Ketua DPRD Luhur Pambudi Mulyono. Perubahan Hari Jadi dari yang sebelumnya usia Purworejo mencapai 1.117 tahun di tahun 2018, menjadi berusia 188 tahun di tahun 2019 nanti, Luhur ingin agar ada perubahan paradigma berpikir masyarakat. Sekarang saatnya masyarakat akan lebih fokus membangun Purworejo dengan usia yang masih muda dengan energi dan semangat yang baru.

Luhur Pambudi Mulyono.

“Yang harus kita tonjolkan sekarang adalah bisa kembali menghasilkan orang-orang yang bisa diandalkan di kancah nasional. Purworejo akan seperti dulu di mana banyak pejuang yang memberikan banyak sumbangan pikiran dan tenaga bagi Indonesia,” jelasnya.

Ia juga merasa perlu mencetuskan slogan Purworejo Mulyo untuk semakin memuliakan Purworejo dengan hari jadi yang baru. Slogan ini diharapkan akan lebih grengseng dan menjadi sesuatu yang lebih baru.

Menurutnya, di era milenial sekarang ini semua orang ingin sesuatu yang baru namun positif. Dirinya ingin agar orang muda Purworejo akan lebih greng dengan Purworejo Mulyo itu.

“Bukan berarti slogan yang ada selama ini seperti Purworejo Berirama dan lainnya itu jelek, itu akan tetap ada dan tidak dicabut. Cuma kita menggaungkan semangat Purworejo Mulyo untuk  menyemangati perubahan pola pikir dan mengubah tindakan ke arah yang lebih baik,” katanya.

Jika diucapkan dengan benar dan mendalam dalam hati, ungkapan itu akan menjadi sebuah doa yang dahsyat. Konsekuensi Purworejo Mulyo otomatis akan mendorong warganya yang juga mulyo. (*/udi/laz/mg3)