JOGJA – Kasus pelecehan seksual yang terjadi pada mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM) di Maluku tahun lalu masih dalam proses penyelesaian. Jika selama ini perhatian tertuju pada penyitas, apa kabar dengan terduga pelaku?

Dari penelusuran yang dilakukan Radar Jogja Selasa (13/11), terduga pelaku adalah Handika Saputra. Dia adalah mahasiswa dari jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM angkatan 2014. Nama tersebut sudah santer disebut sejak awal kasus ini mencuat.

Radar Jogja berhasil mendapatkan informasi dari teman sejurusan Handika di Fakultas Teknik terkait kondisinya sekarang. Handika saat ini masih berada di Jogja. Sayang mereka menolak untuk mengantarkan bertemu dengan Handika. Namun, mereka enggan namanya dikorankan. Sebut saja keduanya D dan F.

D mengungkapkan, saat ini Handika dalam kondisi yang baik. Meski diakuinya sempat shock mengetahui kasusnya yang sudah setahun berlalu ini kembali diungkit. Menurut dia teman-temannya masih banyak yang memberi dukungan.

“Terlepas dari menurut orang dia benar atau salah, tapi kami takut dia kenapa-kenapa gara-gara public shaming di media sosial,” ungkapnya.

D menyatakan setuju kasus harus diselesaikan. Setidaknya dilakukan dengan musyawarah. Tapi sebagai teman mereka hanya menyerahkan pada pihak yang berwenang, yaitu penyintas, pelaku, dan UGM. Termasuk jika akan menyelesaikannya dengan jalur hukum. Dia dan teman-temannya lebih khawatir dengan dampak komentar dari warganet.

“Kami lebih takut dengan netizen yang sebenarnya nggak tahu cerita lengkapnya kayak apa,” katanya.

Secara pribadi D juga enggan berkomentar terkait hubungan antara Handika dengan penyintas. Dia mengaku lebih peduli dengan keadaan dan nasib kehidupan sosial temannya itu sekarang.

“Kelihatannya begitu kalau dari sudut pandang saya, belum tahu pasti kalau dia benar-benar baik-baik saja atau jangan-jangan ada yang diumpetin,” tuturnya.

Sekitar lima hari yang lalu, F dan beberapa teman seangkatan Handika di jurusan yang sama menjenguk ke kosnya. Dengan niat memberi dukungan secara psikologis. F mengatakan kondisi Handika saat ditemui tampak tertekan, bahkan sempat tidak makan seharian. Sampai akhirnya teman kosnya yang inisiatif untuk membelikan makan.

“Setau saya sudah ke psikolog (sesuai rekomendasi) juga kok,” ujarnya.

F menuturkan, kurang lebih sekitar satu jam dikunjungi, Handika masih mau berkomunikasi dengan teman-temannya. Handika juga sempat curhat sudah bolak-balik dipanggil LPPM UGM untuk investigasi kasus ini. Bahkan sejak setahun yg lalu juga sudah siap menerima konsekuensi dari UGM. Bahkan jika harus kena drop out (DO). Ternyata konsekuensi yang didapat saat itu yakni harus mengulang KKN, mendapat konseling, dan membuat surat pernyataan kesalahan.

“Kan KKN-nya periode antar semester itu Juni sampai Agustus 2017, ngulang KKN-nya yang periode dalam semester berikutnya, pada 2018 ini,” jelasnya.

Terpisah, Dekan Fakultas Teknik UGM Prof Ir Nizam Phd menyatakan keputusan penundaan wisuda Handika selama minimal enam bulan atau hingga kasus ini selesai. Fakultas menyatakan sepenuhnya mengikuti dan mendukung apa yang diputuskan oleh rektorat berdasar rekomendasi tim investigasi. Serta berkoordinasi dengan Dekan Fisipol sebagai pihak dari sisi penyintas.

“Kami tidak mau adu opini, sudah ada tim yang bekerja. Biar mereka bekerja dengan tenang agar masalah bisa selesai dengan baik dan berkeadilan untuk semua,” ungkapnya. (tif/pra/fj/mg3)¬†