BANTUL- Program penyediaan air minum berbasis masyarakat (pamsimas) di Desa Argosari, Sedayu terbukti mampu mengatasi persoalan krisis air bersih saat musim kemarau. Meski program pemerintah pusat, pedukuhan memilih penyandang disabilitas dan lansia yang mendapatkan sambungan prioritas.

”Targetnya difabel dan jompo. Mereka harus menikmati kemudahan. Ada 6 warga jompo dan 5 difabel yang kami bantu,” tutur Dukuh Jaten Roh Pitutur Senin (12/11).

Di Pedukuhan Jaten, kata Roh, sebenarnya tidak sulit untuk menemukan sumber air. Masalahnya, kualitas airnya buruk. Mengandung kapur. Pemerintah akhirnya pada 2007 menggelontorkan anggaran untuk pembangunan pamsimas.

Di tempat yang sama, Ketua RT 40 Pedukuhan Jaten Agustinus Suhardi menyebut ada 181 rumah yang tersambung dengan pamsimas. Namun, biaya pemasangan setiap rumah ini sama. Meski tarif normalnya Rp 1,2 juta. Pengurus pamsimas menerapkan tarif berbeda. Warga pendatang dipatok Rp 1,5 juta. Sedangkan penghuni kompleks perumahan Rp 2 juta.

Di antara penyandang disabilitas yang mendapatkan bantuan pemasangan pamsimas adalah Sukiman. Pria 35 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang pijat dan pembuat sangkar burung ini memiliki keterbatasan penglihatan. Sedangkan istrinya tunadaksa.

”Hanya dikenakan tarif Rp 2.500 per kubik,” kata Sukiman. (cr6/zam/by/mg3)