KULONPROGO – Warga Pedukuhan Bulak, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, menolak rencana pembangunan gardu induk PLN di wilayahnya. Warga belum pernah mendapatkan sosialisasi.

Keberatan mencuat setelah warga pemilik tanah dikumpulkan di balai desa untuk diberi tahu rencana kompensasi ganti rugi. “Warga sekitar menolak, karena tidak ada sosialisasi,” kata warga setempat, Dwi Nuryanto, Rabu (7/11).

Menurut dia, gardu induk tersebut akan dibangun di tanah milik 10 warga. Dwi merupakan salah seorang pemilik lahan yang berbatasan dengan tanah yang akan dipakai.

“Tahu-tahu Agustus lalu sudah ada upaya pembebasan dan ganti rugi lahan,” ujar Dwi.

Para pemilik lahan dikumpulkan di balai desa untuk diberi tahu nilai ganti rugi. Masalah bertambah, sebab besaran nilai ganti rugi tidak sama. Harga yang dipatok berkisar Rp 230 ribu hingga Rp 450 ribu per meter persegi. Pada 31 Oktober, pembayaran kabarnya akan dilakukan.

“Warga mengirim surat keberatan kepada bupati ditembuskan ke PLN, Irda, Kejaksaan, BPN, Camat Sentolo dan ke Desa. Setelah ada surat itu, proses pembayaran ditunda,” ucapnya.

Menurut Dwi, saat ini warga hidup damai tanpa kehadiran gardu induk PLN. Dikhawatirkan gardu PLN menimbulkan radiasi dan bising. “Lahan itu juga produktif. Saat kemarau menjadi sawah tadah hujan,” ujarnya.

Camat Sentolo Widodo mengatakan sosialisasi sudah dilakkan dua kali. Namun yang diundang hanya 10 orang pemilik tanah, ketua RT, RW dan dukuh. Sosialisasi di balai desa dan melibatkan sejumlah pihak.

“Bahkan penentuan harga ganti rugi melibatkan tim apraisal, Kejaksaan dan BPN. Tahap awal memang hanya pemilik tanah, belum ke warga sekitar,” jelasnya. (tom/iwa/zl/mo1)