JOGJA – Persaingan dalam Pemilu 2019 yang memanas membuat berbagai kalangan mengingatkan dampak buruknya pada situasi kebangsaan. Termasuk Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiah (FUI) DIJ yang meminta semua kelompok harus membentengi pendukungnya untuk tidak melakukan aksi yang merugikan

Ketua Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiah DIJ Ustaz Umar Said berharap siapa saja yang jadi pemenang pada Pemilu mendatang diharapkan tidak umuk, sedang yang tidak menjadi pemenang diminta tidak ngamuk.

“Setiap pemilu selalu ada potensi konflik antar pendukung. Ini jangan sampai terjadi. Kami menyerukan agar proses Pemilu 2019 bisa berjalan damai,” ujar  Umar di sela Silaturahmi Umay Jogja di Masjid Dipowinatan, Selasa (6/11).

Menurut dia semua pihak harus saling menahan diri dan tidak melakukan tindakan  provokatif demi terjaganya ukhuwah, keamanan dan kerukunan antarumat. Jika tidak diantisipasi, bibit konflik akan bermunculan. “Semua pihak harus bisa menahan diri. Jangan hanya satu pihak saja yang diminta untuk tidak berbuat anarkis, tetapi pihak lain dilepas,” pesannya.

Untuk mewujudkannya, lanjut dia, membutuhkan komitmen.Terkait dengan banyaknya hoaks yang dibalut agama selama proses Pemilu, Umar meminta agar umat lebih dewasa menyaring setiap berita yang beredar. Umat, kata Umar, diminta mencari tabayun setiap informasi yang diterima. “Utamakan cek dan ricek. Tabayun terhadap setiap informasi yang diterima,” tegasnya.

Seruan Pemilu Damai 2019 tersebut juga diamini Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jogja yang meminta agar umat tidak terprovokasi dengan isu-isu berbalut keagamaan. DMI juga meminta agar masjid tidak dijadikan sarana politik praktis dan pragmatis agar tidak memecah umat sehingga masjid tetap menjadi penyangga Islam yang rahmatan Lilalamin.
“Masjid harus tetap dijadikan untuk sarana berbagai dan pemberdayaan umat. Jangan dijadikan tempat untuk politik praktis. Jangan. Itu hanya akan memecah belah umat,” ujar Kepala Humas Hukum dan Wakaf DMI Jogja Aminuddin. (sky/pra/zl/mo1)