Berlokasi di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul

JOGJA– Penggemar jazz kembali akan dimanjakan dengan gelaran tahunan Ngayogjazz. Rencananya digelar di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul pada Sabtu (17/11) mendatang.

Ngayogjazz digelar sejak 2006. Digagas oleh Djaduk Ferianto, Ajie Wartono, Hattakawa, Vindra Diratara, Hendy Setiawan, Ahmad Noor Arief, dan Bambang Paningron.

Rencananya, lebih dari 40 grup dan musisi se-Indonesia akan tampil. Bahkan, musisi Perancis, Belanda, Spanyol dan Italia sudah memastikan untuk tampil.

”Konsepnya sama seperti sebelumnya. Mengambil lokasi di pedesaan karena ingin memberikan nuansa jazz yang berbeda. Menggabungkan jazz dan suasana pedesaan,” ujar Media Relations Ngayogjazz Rosalina Puspitarini, Rabu (7/11).

Dikatakan, konsep Ngayogjazz masih sama. Yakni mengajak semua yang hadir belajar menghormati kearifan local. Menggunakan jazz sebagai penghubungnya.

Diharapkan penggemar jazz yang datang bisa membaur dengan masyarakat setempat. ”Diharapkan menumbuhkan semangat saling menghormati dan belajar. Bisa luwes menyesuaikan dengan kearifan lokal,’’ kata Rosalina.

Ngayogjazz mengajak pengunjung sebagai sedulur jazz bersama dengan masyarakat desa setempat. ‘’Bersama-sama bergembira, menciptakan hubungan dan kehidupan yang harmonis melalui jazz,” kata Rosalina.

Bukan Ngayogjazz jika tidak nyeleneh yang selalu tersaji di tagline yang dihadirkan. Kali ini Ngayogjazz mengusung tema Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara. Plesetan dari Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata.

”Kurang lebih maknanya, walaupun negara mempunyai hukum dan tata negara, tiap daerah juga memiliki adat dan budaya sendiri. Ini erat kaitannya dengan kearifan lokal,” tandasnya. (*/sam/iwa/zl/mo1)