Didukung Penuh oleh Dinas Pariwisata DIY

KULONPROGO – Warga Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo didukung Dinas Pariwisata (Dispar) DIY kembali menggelar Festival Budaya Kembul Sewu Dulur 2018 di Bendung Kayangan. Agenda tahunan yang digelar setiap Rebo Pungkasan, Bulan Sapar atau Rabu terakhir.

“Festival ini diharapkan menjadi daya tarik wisatawan di Kulonprogo,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo di sela kegiatan, Rabu (7/11).

Diungkapkan, awalnya tradisi ini dilakukan sederhana. Berupa kenduri di rumah masing-masing kepala dusun. Setelah mendapat dukungan budayawan, seniman dan masyarakat, kini dilaksanakan dengan skala lebih besar dan meriah.

“Penyelenggaraan tahun ini lebih rigid dan terkonsep. Banyak acara yang digelar sejak Selasa (6/11). Ada jatilan, pagelaran wayang kulit Purwa, thai chi on the river side, karnaval budaya, dan pentas tari. Harinya pas dan lebih ramai pengunjung,” ungkap Untung.

Kepala Seksi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo menambahkan, pihaknya mendorong pengembangan budaya di Pendoworejo. Sehingga menjadi kekuatan masyarakat yang memiliki adat dan tradisi yang mereka yakini.

“Saya yakin tempat ini akan menjadi magnet wisatawan. Tugas kami memberikan semangat kepada masyarakat, event ini sudah menjadi brand. Di sini sudah punya ikon untuk wisata budaya atau religi,” kata Wardoyo.

Sejarah lisan atau mitos yang berkembang di desa setempat sudah kuat. Sehingga kegiatan atau perhelatan yang dilaksanakan tentu tidak bisa digelar seenaknya. Harus sinkron dengan nilai religi dan sejarah yang sudah ada.

“Melihat semangat warga, saya optimistis event budaya ini akan bertahan. Ke depan akan muncul warna-warna baru yang dicari wisatawan,” jelasnya.

Festival Kembul Sewu Dulur atau tradisi Rebo Pungkasan tidak lepas dari sosok Mbah Bei Kayangan. Leluhur yang dihormati warga setempat karena jasanya membangun sistem kehidupan masyarakat.

Mbah Bei adalah sosok yang menginisiasi pembangunan bendung di Sungai Kayangan sebelum masa penjajahan. Tepatnya di bawah titik pertemuan dua sungai, Kledung dan Ngiwo. Bendungan tersebut telah membuat ladang dan sawah milik warga produktif kendati musim kemarau.

Pada hari Rabu, Mbah Bei tidak hadir kenduri. Konon disebut telah moksa (meninggal) dan bersemayam di kayangan (surga). Dari situ tempat ini kemudian bernama Bendung Kayangan dan Kenduri Rebo Pungkasan itu tetap dilaksanakan sampai sekarang untuk melestarikan jasa Mbah Bei.

Seniman Jogja, Godod Sutejo, menyatakan tradisi yang awalnya sederhana itu kini sudah terkemas baik. Nilai budaya masih bertahan baik bahkan dinilai tidak dirubah sejak pertama kali tradisi ini dimulai.

Salah seorang sesepuh Desa Pendoworejo, Odho Sumarto, 76, mengatakan dulunya tradisi Kembul Sewu Dulur hanya diikuti masyarakat desanya. Sejak dikemas sedemikian rupa, masyarakat daerah lain turut meramaikan tradisi ini.

Upacara dimulai kirab kelompok kesenian, pembawa sesaji dan kenduri, tamu undangan, dan masyarakat umum. “Peserta kirab bersamaan menuju ke lokasi bendungan dan berkumpul di pinggir sungai. Kemudian kelompok-kelompok kesenian melakukan pentas seni,” ucapnya.

Setelah ritual memandikan kuda lumping acara ditutup dengan dhahar kembul (kenduri dan santap bersama, red). Saat dhahar kembul, ritual ngguyang jaran (memandikan kuda kepang,red) kesenian masyarakat setempat dihelat sebagai simbol pembersihan diri setelah bulan Sapar.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo mengatakan kegiatan ini memberi manfaat masyarakat untuk mencintai lingkungan. Selain itu membakar semangat gotong royong.

Salah seorang peserta, Purwanti, 49, warga Pedukuhan Turusan, Pendoworejo mengungkapkan, dia membawa satu tenong. Berisi aneka makanan dan lauk pauk. Ada nasi golong sejodo (nasi putih), panggang emas (telor ceplok), sayur tempe dan bakmi, dan lauk pauk lain. (*/tom/iwa/zl/mo1)