Pelatihan ATI Sasar Warga Dusun Kemasan, Sendangtirto, Berbah, Sleman

Tingkat konsumsi ikan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih rendah. Yakni sekitar 23 kilogram per bulan. Itu pernah diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti beberapa waktu lalu. Padahal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan, konsumsi ikan dalam negeri mencapai 47-50 kilogram ikan per bulan.

Karena itu program untuk meningkatkan konsumsi ikan di tengah masyarakat DIY terus digencarkan. Salah satunya dengan program Alih Teknologi dan Informasi (ATI) Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.

Kegiatan ATI Produk Perikanan yang mendapatkan dukungan penuh Komisi B DPRD DIY kembali mengadakan pelatihan dengan melibatkan warga masyarakat. Kali ini diadakan di Dusun Kemasan, Sendangtirto, Berbah Sleman.

Sebanyak tak kurang dari 50 orang ibu-ibu dari Pedukuhan Kemasan dan Klakah, Sendangtirto, Berbah, Sleman mengikuti kegiatan pelatihan mengolah makanan berbahan ikan. Seperti bakso ikan, tahu tuna, siomay dan sempol ikan.

“Kami memberikan pemahaman dan memotivasi masyarakat yang biasa mengonsumsi daging kambing dan sapi untuk mulai beralih ke konsumsi ikan. Karena melihat manfaatnya,” kata Ketua Komisi B DPRD DIY Janu Ismadi SE  yang menjadi salah satu narasumber acara tersebut, Rabu (7/11).

Menurut Janu, mengonsumsi ikan bisa lebih sehat. Tidak menyebabkan kolesterol asalkan cara memasaknya benar. Kandungan proteinnya juga tinggi. Selain itu, masyarakat juga bisa mulai mengolah ikan menjadi menu makanan yang bisa dijual. Dampaknya bisa menggerakkan perekonomian  masyarakat.

Jika konsumsi ikan di DIY meningkat diharapkan mendorong peningkatan produksi ikan baik tangkap maupun ikan budidaya di DIY.

PRAKTIK LANGSUNG: Pelatihan diisi dengan cara praktis memasak dan mengolah aneka produk perikanan yang menyehatkan. (RIZAL SETYO NUGROHO/RADAR JOGJA)

“DIY di bagian selatan kan dekat dengan laut.  Produksi ikan tawar juga potensial. Jika konsumsi ikan meningkat,  memengaruhi pendapatan perekonomian masyarakat. Hasilnya dapat dirasakan masyarakat juga,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Pengolah Pemasaran Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Endang Supraptiningsih menjelaskan, konsumsi ikan warga DIY memang masih minimal. Dia memaparkan, beberapa penyebabnya. Di antaranya budaya masyarakat yang menyukai makanan manis seperti gudeg dan bakpia. Sementara ikan dirasa amis.

Di sisi lain, sosialisasi dan informasi pentingnya konsumi ikan di masyarakat masih minim. Termasuk membuat olahan-olahan makanan berbahan dasar ikan. Endang juga memberikan edukasi mengenai ikan segar yang baik dikonsumsi.

“Ciri-ciri ikan yang masih segar, matanya masih bening, insangnya merah, sisiknya belum rusak. Baunya tidak terlalu amis. Jika dimasukkan air tidak mengambang. Ikan tidak menyebabkan kolesterol. Asal cara menggorengnya benar, tidak memakai minyak jelantah atau minyak bekas. Tapi dengan minyak goreng yang masih baru,” paparnya. (riz/kus/er/mo1)