Muhammad Zain, Peyandang Disabilitas Ahli Komputer Asal Jogja

Kondisi fisik Muhammad Zain tampak normal. Siapa sangka dia menyandang disabilitas mental. Siswa SMK Muhammadiyah 2 Jogja itu menjadi wakil Indonesia di Global IT Challenge for Yout with a Disability di India.

DWI AGUS, Jogja

ZAIN terdiam saat Radar Jogja menghampirinya. Namun setelah diajak berbincang soal teknologi informasi, pemuda kelahiran Sleman, 21 Juli 2001, ini begitu antusias. Obrolan mengalir. Zain tampak bersemangat menceritakan program-program di komputer miliknya. Siswa kelas XI itu bicara dengan lugas dan jelas. Setiap pertanyaan yang Radar Jogja ajukan. Dari tutur katanya tak terlihat jika Zain adalah penyandang disabilitas mental. “Iya senang komputer sudah dari kelas 1 SMP. Tapi lebih cenderung ke permainan di komputer,” ungkapnya saat ditemui di sekolahnya beberap waktu lalu.

Dari program komputer, obrolan mengalir hingga rencana keberangkatannya ke India. Dalam waktu dekat ini. Di negara asal aktor Shah Rukh Khan itu Zain bukan akan bertamasya. Dia menjadi delegasi Indonesia. Di ajang Global IT Challenge for Youth with a Disability.

Terpilihnya Zain sebagai wakil Indonesia bukanlah perkara gampang. Apalagi event skala internasional. Cukup panjang perjalanannya. Mulai tahap seleksi regional Jawa-Bali. Lalu level nasional. Hingga terpilih di tingkat Internasional. Untuk seleksi skala nasional Zain meraih peringkat kedua. Meski bukan juara pertama, Zain tetap berhak berangkat ke India. Karena juara pertama seleksi nasional tak otomatis bisa berangkat ke India. “Ada delapan orang diseleksi lagi untuk level internasional. Terpilih empat wakil utama dan empat cadangan,” jelasnya.

Dalam tim Indonesia Zain tidak sendiri. Ada tiga peserta lainnya. Masing-masing menyandang disablitas berbeda. Ada tunarungu, tunadaksa, dan tunanetra. Masing-masing delegasi asal Semarang, Jakarta, dan Balikpapan.

Zain cukup serius menghadapi global IT challenge. Dia rajin berlatih. Di rumah dan sekolah. Juga melahap soal-soal latihan secara online. Materi latihan diperoleh dari Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Jakarta. Bekerja sama dengan Kementerian Kominfo. Setiap harinya Zain berlatih hingga pukul 12 malam. “Latihannya jarak jauh dulu. Selanjutnya berangkat ke Jakarta. Berlatih di pusdiknas bersama teman-teman lainnya,” ujar Zain.

Pada Rabu (07/11),  Zain telah bertolak ke India. Dari Jakarta. Sebelumnya, pada 3 hingga 5 November dia menjalani pelatihan di Pusdiknas Jakarta. Zain akan berada di India hingga 12 November mendatang.

Ada beberapa kategori yang dilombakan. E-tool, e-life map, e-creative, dan e-contens. Seluruh kategori mengandalkan kecakapan mengoperasikan komputer. Bagi Zain itu sebuah tantangan. Terlebih kegemaraannya mengutak atik program komputer sangat tinggi.

Selain beregu, Zain harus bersaing dengan delegasi dunia secara individu. Untuk beregu Zain terlibat dalam pembuatan scratch dan movie maker. Tantangan tidak berhenti sampai di sini. Sebab, anggota kelompok terdiri campuran peserta dari berbagai negara.

Nah itu soalnya. Kelompoknya dicampur. Selain bahasa mungkin ada kendala lainnya. Harus kompak dengan disablitas lainnya,” kata putra pasangan Igun SUpriyadi dan Niken Wulanjari.

Zain bisa sampai pada tahapan itu tak secara instan. Berbagai kompetisi pernah dia geluti. Beragam penghargaan dia raih. Seperti juara I kategori individu internet tingkat regional. Juara II nasional desain sampul. Serta juara II nasional kategori internet individu.

Zain mengaku, kecintaannya pada program komputer justru di luar dugaanya. Berawal iseng. Kala itu, saat bermain game komputer, kerap eror. Mengadu kepada kedua orang tuanya justru tidak menemukan solusi. Bermodalkan rasa ingin tahu dan internet, Zain berhasil memecahkan permasalahan.

“Belajar dari teman ayah juga saat utak atik komputer. Sering melihat akhirnya tahu harus bagaimana. Malah ternyata bisa membenarkan,” ceritanya.

Soal cita-cita, Zain ingin memiliki usaha sendiri. Di bidang teknik dan jaringan komputer. Agar ilmu yang diperolehkan bisa diterapkan untuk kebaikan bersama.

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Jogja Muhaimin ikut mendampingi. Dia optimistis, Zain bisa melalui seluruh tahapan lomba. Meski menyandang disabilitas mental, dengan IQ kurang dari 70, Zain memiliki keahlian bidang teknologi informasi.

“Zain ini sangat optimistis bisa meraih prestasi dari ajang tersebut. Sebagai gurunya tentu kami sangat bangga,” ujarnya. (yog/rg/mo1)