JOGJA – Gagasan rekayasa arus lalu lintas di pintu masuk kawasan Malioboro masih buram. Hingga sekarang Pemprov DIJ masih mengotak-atik formulasi rekayasa yang bertujuan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas itu. Sebab, rencana rekayasa berupa penerapan satu arah di Jalan M Suryotomo, Jalan Mataram, kawasan Abu Bakar Ali, hingga Simpang Tiga Pasar Kembang terbentur bangunan Babon Aniem.

Keberadaan bangunan gardu listrik yang berdiri di tengah persimpangan itu mengganggu manuver kendaraan. Namun, bangunan berbentuk segi empat peninggalan Belanda itu tidak dapat dipindah. Lantaran berstatus bangunan cagar budaya.

Kepala Dinas Perhubungan DIJ Sigit Sapto Raharjo mengaku dilematis dengan keberadaan Babon Aniem. Bakal muncul persoalan baru bila pemprov menggesernya. Namun, konsep ideal penerapan satu arah di pintu masuk kawasan Malioboro adalah dengan menggesernya.
”Kawasan ini nantinya jadi lokasi masuk dari arah selatan dan timur,” jelas Sigit Selasa (6/11).

Kendati begitu, pejabat yang tinggal di Potorono, Banguntapan, ini belum mengetahui apakah Babon Aniem bakal digeser atau dipertahankan. Yang pasti, penerapan satu arah di beberapa jalan protokol hingga sekarang masih dalam tahap kajian. Bila kebijakan ini diterapkan, seluruh kendaraan bermotor dari arah timur (Kotabaru) yang bergerak menuju ke Jalan Mataram tak lagi diperbolehkan. Sebab, Jalan M. Suryotomo dan Jalan Mataram hanya untuk kendaraan dari arah selatan ke utara. Sebagai gantinya, diarahkan ke Jalan Pasar Kembang. Atau putar balik kembali ke Kotabaru.

”Kalau kendaraan non-mesin ya masuk Malioboro,” ucapnya.
Ada beberapa upaya lain yang dipersiapkan untuk kebijakan satu arah ini. Di antaranya, penghilangan beberapa pembatas jalan. Hanya, bekas penjabat bupati Bantul ini enggan berkomentar banyak. Sebab, manajemen lalu lintas masih dalam tahap kajian.

Sigit juga menyinggung mengenai ide pembangunan kantong parkir untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas. Termasuk memaksimalkan kawasan Gl Zoo sebagai kantong parkir.

”(GL Zoo) Bisa dipindahkan di Tahura Gunungkidul atau Mangunan Bantul,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Sigit juga menyoroti ruas Jalan Malioboro. Menurutnya, daya tampung ruas Jalan Malioboro tidak ideal. Dengan lebar yang hanya enam meter, seluruh jenis kendaraan melintas. Baik kendaraan bermotor maupun tradisional. Overload-nya Jalan Malioboro ini juga masuk dalam kajian.

Sementara itu, para penarik becak dan kusir andong berharap banyak dengan rencana pemprov yang ingin membebaskan kawasan Malioboro dari kendaraan bermotor.

Joko Pranoto, 53, seorang penarik becak melihat, rencana pemprov bakal membawa keuntungan tukang becak. Wisatawan tak lagi naik kendaraan bermotor. Sebaliknya, mereka bakal mengandalkan moda transportasi tradisional.

”Sehari-hari hanya mengantar dua hingga lima wisatawan,” sebutnya.
Walijo, seorang penarik becak lainnya menaruh harapan serupa. Menurutnya, jumlah wisatawan yang menggunakan jasa becak turun drastis.

”Ini tadi baru ngantar satu penumpang,” jelas pria asal Pandak, Bantul yang biasa mengantar dari Malioboro hingga Bringharjo ini.

Keterangan berbeda disampaikan Paryadi. Hingga sekarang kusir andong ini belum mendengar soal rencana pemprov. Dari itu, dia berharap segera ada sosialisasi. (dwi/tif/zam/fj/mg3)