Peraturan Menteri Kesehatan nomor 48 tahun 2016 memberikan arahan tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja(SMK3) yang mencakup keselamatan, kesehatan kerja, lingkungan kerja, sanitasi, dan ergonomi perkantoran yang dimaksudkan agar tempat kerja memiliki kondisi yang aman, efisien, dan produktif bagi para pekerjanya.

Empat hal tersebut jika dapat dilaksanakan dalam pelaksanaan kerja perkantoran akan mencegah penyakit akibat kerja, penyakit akibat hubungan kerja, dan kecelakaan kerja. Tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien dapat mendorong produktivitas pekerja secara signifikan.

SMK3 mencakup komponen gedung, pekerja, dan proses kerja yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan berdasarkan kompetensi dan standar keilmuan. Standar kesehatan kerja yang perlu dilakukan mencakup peningkatan kesehatan kerja, pencegahan penyakit, penanganan penyakit, dan pemulihan kesehatan bagi pekerja di lingkungan tempatnya bekerja.

Kesehatan kerja dapat dilakukan dengan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat(PHBS) Perkantoran, penyediaaan ruang laktasi, waktu untuk melakukan olahraga, Pos Pembinaan Terpadu(Posbindu) perkantoran, klinik perkantoran khususnya yang bersifat kegawatdaruratan, dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi calon pekerja atau pekerja dengan masa kerja tertentu. Penyediaan air bersih, toilet, tempat untuk cuci tangan dengan sabun, pengelolaan limbah yang baik, pengendalian binatang penular penyakit dan penyediaaan tempat khusus merokok menjadikan lingkungan kerja perkantoran mendukung kesehatan pekerjanya.

Penyakit akibat kerja seperti asbestosis, pnemonikosis, penyakit paru obstruksi kronis, nyeri punggung bawah, dan anemia zat besi dapat menurunkan produktivitas pekerja bahkan dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Selayaknya pemilik tempat kerja melaporkan secara teratur kondisi kesehatan pekerja, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan akibat kerja yang terjadi di tempat kerja kepada pemangku kebijakan agar dapat dilakukan pembinaan yang tepat. (kus/er/mg3)