Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Hal itu ditunjukkan sebuah studi Most Littered Nation in The World yang dilakukan Central Connecticut State University, Maret 2016 lalu. Hasil studi itu menyebut, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara mengenai minat membaca.

Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Bostwana (61) dan di bawah Thailand (59). Ini pun menjadi sebuah keprihatian tersendiri bagi beberapa kalangan, tak terkecuali mahasiswa. Hal itu pula yang mendorong Muhammad Naziful Haqi, 22, dan beberapa temannya mendirikan sebuah komunitas bernama Lentera Aksara.

(GRAFIS: HEPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Lentera Aksara merupakan satu dari beberapa komunitas yang peduli pada kebiasaan membaca. Umumnya, anggota komunitas ini adalah mahasiswa Universitas Mercu Buana (UMB) Jogjakarta.

Meski Naziful bukan penggagas dan hanya pegiat dari komunitas, ia memiliki kepedulian yang tinggi pada minat baca para pemuda. Wagirok (22), teman Nafizul, juga sependapat. Sebagai kaum muda, ia melihat mahasiswa membaca buku hanya ketika ada tugas atau hendak ujian. “Padahal aktivitas membaca itu seharusnya menjadi sebuah kebutuhan,” katanya saat ditemui di kafe Secangkir Jawa, Jumat (2/11).

Setidaknya ada lebih dari 10 mahasiswa yang saat ini aktif di Lentera Aksara. Mulai dibentuk pada akhir 2016, komunitas ini cukup aktif mengkampanyekan kebiasaan gemar membaca. Setiap Selasa dan Rabu, mereka membuka lapak buku di salah satu sudut kampus.

Di lapak itu, anggota komunitas menyediakan beragam genre buku yang bisa dibaca siapa pun secara gratis. Buku-buku tersebut merupakan pinjaman dari para anggota. “Jadi buku dari teman-teman Lentera Aksara dikumpulkan, terus ditaruh di lapak. Siapa saja boleh baca,” ujar Laksana Asa Segara, 21, anggota komunitas Lentera Aksara.

Sedangkan setiap Sabtu mereka mengadakan diskusi atau semacam bedah buku. Biasanya diadakan di luar kampus dengan mengundang salah seorang pembicara. “Sebenarnya bebas mau diskusi apa. Beragam jenis buku atau bahkan sharing tentang isu-isu terkini juga bisa,” kata Asa.

Menurut mereka, buku bukan sekadar benda mati. Masing-masing anggota dari Lentera Buku memiliki motif tersendiri mengapa mereka gemar membaca buku. “Dari buku tuh kita bisa melihat suatu permasalahan secara mendalam. Dari sisi-sisi yang lain,” kata Wagirok. Baginya, melalui membaca ada beragam solusi yang bisa digunakan manusia dalam memecahkan masalah.

Nafizul menambahkan, kodrat manusia sebagai homo sapiens yang diberi kelebihan untuk berpikir dan berakal, harus dimanfaatkan. “Dengan membaca itu kita mengasah kemampuan berpikir kita,” tuturnya.

Asa misalnya, perempuan yang senang membaca buku-buku pemikiran feminisme itu mengatakan, banyak sosok inspiratif yang bisa ditiru dari buku. Hal itu kian memperkaya wawasannya tentang beragam pemikiran orang lain. Beberapa dari mereka bahkan mengaku lewat membaca ada kepuasan secara psikologis yang bisa terpenuhi.

“Jadi, kalau dipikir-pikir, membaca itu bukan gaya hidup. Bukan juga pilihan hidup. Tapi kebutuhan,” kata Wagirok. Pria yang gemar membaca buku beragam teori dari para pemikir itu melihat buku sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Lebih dari itu, semakin sering membaca, kian kaya pula topik yang ia mengerti. Itu bahkan memudahkannya ketika berbicara dan mengobrol dengan orang lain.

Terkait minimnya kebiasaan membaca masyarakat Indonesia, para pemuda ini memiliki pandangan lain. Bagi mereka, butuh kerja sama antara lembaga keluarga dengan sekolah agar anak-anak memiliki habit membaca.
“Kalau kita lihat, anak-anak sekolah itu dituntut untuk menghafal, bukan membaca kemudian dipahami,” kata Asa. Ia berharap orang tua tidak membatasi anak-anak dalam membaca beragam jenis buku. Asal tetap pada pengawasan.

Sementara itu, melihat maraknya penggunaan e-book, mereka pun punya opini berbeda. Mereka mengakui adanya e-book memberikan kemudahan. “Kadang kan e-book ada yang gratis dan gampang di-download. Dan bisa dibaca di mana pun,” kata Naziful. Namun, ia mengaku tak bisa lama-lama saat membaca e-book karena mata mudah lelah. Mereka pun hingga kini masih menikmati membaca buku cetak.

Di sisi lain, ada pula pebisnis kafe yang memiliki kepedulian pada minat baca anak-anak Indonesia. Mereka adalah Gilbert Sandy dan Boby Rivaldy Labang. Pemilik kafe Bahasa Kopi di kawasan Mrican, Sleman, ini turut aktif menggiatkan kebiasaan membaca.

Saat ditemui di kafenya Sabtu pekan lalu, Boby menceritakan bahwa ia dan rekannya Gilbert, mendirikan Taman Baca Colol di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Kegiatan itu berangkatnya dari kopi,” kata Boby.

Boby mengatakan, kopi dari perkampungan Colol, Kabupaten Manggarai, adalah salah satu yang terbaik. Kopi bahkan menjadi sumber perekonomian masyarakat setempat. Saat ia dan Gilbert hendak mencari kopi Colol, mereka justru melihat sisi lain dari masyarakat. “Di sana ternyata masih minim akses pendidikan. Mereka juga masih malu kalau berbicara pakai Bahasa Indonesia,” ucap Boby.

Ini akhirnya mendorong mereka untuk membuka Taman Baca Colol bagi anak-anak di sana. Setelah melakukan observasi beberapa bulan, Boby dan rekan-rekannya membangun Taman Baca Colol. “Sekarang fokus kami setidaknya meningkatkan akses pendidikan. Setelah itu baru meningkatkan sumber daya alamnya, yakni kopi Colol,” jelas almunus UPN Jogja ini.

Diakui Boby, kini Bahasa Kopi tak hanya sekadar tempat untuk kumpul-kumpul, tapi juga saling berbagi. “Kami buka donasi, baik berupa uang atau langsung dalam bentuk buku,” ujarnya. Ia berharap, dengan mudahnya akses membaca bagi anak-anak di pedalaman, kualitas sumber daya manusia di Indonesia bisa terus meningkat. (cr9/laz/by/mg3)