Belakangan ini sinetron religi yang bertajuk azab ramai diperbincangkan publik. Alur cerita yang terlalu dramatis dan tidak masuk akal serta judul yang berlebihan membuat sinetron dengan tema ini tidak hanya mendapatkan perhatian keras dari masyarakat tetapi juga dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Perhatian keras ini berbuah surat peringatan tertulis oleh KPI terhadap salah satu stasiun televisi yang menayangkan sinetron azab (surat peringatan nomor 413/K/KPI/31.2/07/2018).

Sejak 2015, total sudah ada tiga stasiun TV yang mendapat teguran KPI atas penayangan sinetron bertema azab karena dinilai kurang sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012.

Permasalahan ini sudah selayaknya menjadi bahan refleksi para pengelola media penyiaran. Komentar warganet yang menjadikan program televisi sebagai guyonan menjadi tanda terkikisnya kepercayaan khalayak pada media televisi bersangkutan. Hal ini sangat serius mengingat kepercayaan adalah jantung keberadaan media di tengah masyarakat.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati mengenai sinetron tersebut. Pertama, soal sinetron yang dianggap tidak masuk akal. Penonton dapat mengidentifikasi sendiri cerita yang dibuat oleh penulis skenario sinetron itu melalui kesesuaiannya dengan realitas yang dialaminya sehari-hari.

Cerita fiksi yang menarik sekaligus penting tidak selalu harus kisah yang rumit, tetapi kisah yang dapat menjadi bahan perenungan penontonnya setelah selesai menonton. Cerita yang diharapkan bisa menjadi bahan perenungan penontonnya ini mustahil muncul dari seorang pencerita yang tidak memiliki waktu untuk merenungkan kisah yang dibuatnya sendiri.

Sinetron kejar tayang sering menempatkan para pencerita ini pada posisi tersebut. Mana bisa orang merenung kok dikejar-kejar? Alhasil, cerita yang muncul dari kondisi itu adalah cerita instan yang bombastis dan menawarkan sensasi untuk tetap berusaha menarik perhatian penonton sebagai ganti ketidakmampuan menghadirkan cerita yang dapat direnungkan itu.

Permasalahan ini sudah selayaknya menjadi bahan refleksi para pengelola media penyiaran. Komentar warganet yang menjadikan program televisi sebagai guyonan menjadi tanda terkikisnya kepercayaan khalayak pada media televisi bersangkutan. Hal ini sangat serius mengingat kepercayaan adalah jantung keberadaan media di tengah masyarakat.

Kedua, soal tanggapan KPI yang muncul berdasarkan aduan khalayak. Hal ini sangat bagus karena KPI tidak mungkin bekerja sendiri. Khalayak yang sudah meluangkan waktu dan berani mengadu ke KPI adalah penonton yang peka dan peduli pada kondisi dunia penyiaran di negara kita.

Banyak yang mengeluh dan menertawakan tayangan sinetron televisi kita, tetapi tidak banyak yang secara resmi mengadukannya. Frekuensi yang dipakai bersiaran adalah milik kita yang sedang kita pinjamkan ke para pengelola media-media tersebut. Oleh karena itu, kita sangat berhak mengadukan tayangan-tayangan yang kita anggap tidak sesuai dengan harapan kita.

Semakin banyaknya aduan yang kita sampaikan ke KPI, semakin banyak pula pertimbangan yang dapat dipakai KPI untuk mengusulkan penghentian atau perpanjangan pinjaman frekuensi tersebut. (ila)

*Dosen Pengampu Mata Kuliah Media Penyiaran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UAJY